MITOS SEKS PADA REMAJA
Mitos Seks pada Remaja Menurut Subinarto (2008), mitos
adalah informasi yang sebenarnya salah tetapi dianggap benar, yang telah
diyakini, beredar,dan populer dimasyarakat. Mitos cepat sekali berkembang di
masyarakat, padahal kebenarannya masih dipertanyakan dan sering tidak akurat
atau tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Banyak masyarakat yang percayakepada
mitos karena mereka sulit mendapatkan informasi yang akurat dan biasanya malas
untuk mencari serta mendapatkan informasi yang benar, oleh sebab itu mereka
dengan mudahnya menerima segala informasi yang sifatnya desas-desus atau gosip
semata.
Menurut Budinurdjaja (2007) mitos seks adalah contoh mitos
yang sangat luas beredar dan mempengaruhi pandangan dan perilaku seksual
masyarakat. Sebenarnya mitos seks secara tidak langsung berhubungan dengan
kesehatan seksual, sebab orang-orang yang meragukan kebenaran dari mitos seks akan
berupaya mencari kebenaran yang sesungguhnya. Setelah mendapatkan keterangan atau pengetahuan yang sebenarnya,
maka orang tersebut secara otomatis akan mengetahui tentang kesehatan seksual,
dimana kesehatan seksual itu mengandung pengertian “kemampuan untuk menikmati
dan mengungkapkan seksualitas kita yang bebas dari risiko terkena penyakit,
kehamilan yang tidak diinginkan, paksaan, kekerasan, dan diskriminasi” (Sjarif,
dkk.2006).
Kategori
mitos :
1.
Mitos alat reproduksi
a.
Sering
masturbasi atau onani bisa membuat mandul.
Faktanya, secara medis masturbasi
atau onani tidak mengganggu kesehatan fisik selama dilakukan secara aman (tidak
sampai menimbulkan luka atau lecet). Kemandulan justru dapat terjadi akibat dari PMS atau penyakit
lainnya seperti kanker atau karena sebab fisik lainnya misalnya kualitas sperma
yang kurang baik (Negara, 2008).
b.
Masturbasi
atau onani dapat menyebabkan lutut kopong.
Faktanya, masturbasi atau onani
tidak dapat menyebabkan lutut kopong. Spermatozoa tidak diproduksi dan tidak
disimpan di dalam lutut melainkan di testis. Mungkin setelah masturbasi atau
onani, biasanya timbul rasa lelah karena masturbasi atau onani mengeluarkan
energi. Itulah yang membuat pelakunya menjadi lemas, jadi bukan karena lututnya
jadi kosong (Negara, 2008).
c.
Menyiram
penis dengan bir atau soda bisa mematikan bakteri atau virus.
Faktanya, tidak mungkin bakteri atau
virus yang ditularkan lewat hubungan seksual akan mati dengan disiram bir atau
soda. Hanya dengan pengobatan antibiotik bakteri bisa dimatikan (Sjarif,
dkk.2008).
2.
Mitos hubungan seksual
a)
Berhubungan
seks dengan pacar merupakan bukti cinta.
Faktanya, berhubungan seks bukan
cara untuk menunjukkan kasih sayang pada saat masih pacaran, melainkan karena
disebabkan adanya dorongan seksual yang tidak terkontrol dan keinginan untuk
mencoba-coba. Rasa saying dengan pacar bisa ditunjukkan dengan cara lain (Negara,
2008).
b)
Hubungan
seks pertama kali selalu ditandai dengan keluarnya darah dari vagina.
Faktanya, tidak selalu hubungan seks
yang pertama kali itu kelihatan berdarah. Apabila komunikasi seksual terjalin
dengan baik dan hubungan seksual dilakukan dalam keadaan siap dan disertai
foreplay tidak memunculkan adanya pendarahan (Negara, 2008).
c)
Selaput
dara yang robek berarti sudah pernah melakukan hubungan seksual atau tidak
perawan lagi.
Faktanya, selaput dara merupakan
selaput kulit yang tipis yang dapat meregang dan robek karena beberapa hal.
Selain karena melakukan hubungan seks, selaput dara juga bisa robek karena melakukan
olahraga tertentu seperti naik sepeda. Karena itu robeknya selaput dara belum
tentu karena hubungan seks (Negara, 2008).
d)
Perempuan
yang berdada besar dorongan seksualnya besar.
Faktanya, secara medis tidak ada hubungan
langsung antara ukuran payudara dengan dorongan seksual seseorang. Dorongan
seksual tersebut ditentukan oleh kepribadian, pola sosialisasi dan pengalaman
seksual (melihat, mendengar atau merasakan suatu rangsangan seksual) (Negara,
2008).
e)
Seks
oral tidak bisa menularkan penyakit.
Faktanya, ada dua cara penularan
penyakit menular seksual yaitu melalui pertukaran cairan dan persentuhan kulit.
Selama hubungan seksual yang dilakukan melibatkan keduanya, risiko tertular
tetap tinggi. Jenis penyakit herpes, klamidia,
gonore,dan sifilis tetap bisa ditularkan melalui oral seks (Anonim, 2008).
3. Mitos PMS
a
PMS
dapat dicegah dengan mencuci alat kelamin.
Faktanya, tidak ada sabun atau
disinfektan apapun yang dapat mencegah PMS, bahkan penggunaan sabun pada vagina
akan mempertinggi risiko terkena keputihan akibat dari berkurangnya kadar
keasaman dari permukaan vagina yang berfungsi untuk membunuh kuman-kuman yang
ada (Sjarif, dkk. 2008).
b
Minum
antibiotik sebelum hubungan seksual akan mencegah penularan PMS
Faktanya, minum antibiotik sebelum
hubungan seksual tidak dapat mencegah PMS, karena masing-masing penyakit
memerlukan jenis antibiotik yang berbeda dan antibiotik yang dimakan belum
tentu sebagai pencegah PMS (Sjarif, dkk. 2008).
c
PMS
dapat dilihat secara kasat mata.
Faktanya, gejala PMS dapat tidak
terlihat oleh mata terutama jika terjadi pada perempuan (Sjarif, dkk. 2008).
d
Kondom
100% aman untuk mencegah PMS
Faktanya, efektifitas kondom hanya
sekitar 44% -74% sehingga kemungkinan terkena PMS tetap ada (Nugraha, 2008).
4.
Mitos terjadinya kehamilan
a
Hubungan
seksual yang dilakukan sekali saja tidak dapat menyebabkan kehamilan.
Faktanya, kehamilan akan terjadi
bila sel telur yang matang dibuahi oleh sperma. Sel telur akan dilepas pada
saat masa subur seorang perempuan. Jadi apabila hubungan seksual dilakukan pada
saat masa subur berarti ada sel telur matang yang dilepas oleh indung telur,
sehingga memungkinkan untuk terjadi kehamilan(Sjarif, dkk. 2008).
b
Ejakulasi
di luar (terputus) tidak menyebabkan kehamilan.
Faktanya, sperma terdapat di dalam
cairan seminal yang dilepaskan sebelum laki-laki mengalami ejakulasi. Jadi,
meskipun laki-laki menarik penisnya keluar sebelum orgasme, pasangan tetap saja
bisa hamil(Anonim, 2008).
c
Petting
tidak dapat menyebabkan kehamilan
Faktanya, walaupun tidak melepaskan
pakaian, petting tetap dapat menimbulkan kehamilan yang tidak diinginkan.
Sperma tetap bisa masuk ke dalam rahim. Karena ketika terangsang, perempuan
akan mengeluarkan cairan yang mempermudah masuknya sperma ke dalam rahim.
Sedangkan sperma itu sendiri memiliki kekuatan untuk berenang masuk ke dalam
rahim. Jika tertumpah pada celana dalam yang dikenakan perempuan, dan langsung
mengenai bibir kemaluan (Anonim, 2008).
d
Berhubungan
seks di masa menstruasi tidak menimbulkan kehamilan
Faktanya, masa subur wanita dua minggu
menjelang masa haidnya datang. Dengan kondisi tersebut hubungan seks yang
dilakukan pada saat wanita sedang menstruasi memungkinkan terjadinya kehamilan.
Setelah ejakulasi sperma dapat hidup 3-4 hari di dalam vagina (Prihantina,
2008)
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman M dan Muhidin S A. 2007.
Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian. Bandung: Pustaka Setia.
Anonim. 2008. Definisi Kesehatan Reproduksi Remaja. Diakses:
13 September 2008. http://www.kesrepro.info/?q=node/380.
Athar S. 2004. Bimbingan Seks bagi Kaum Muda Muslimin.
Jakarta: Pustaka Zahra.
Besral.
2009. Regresi Linier Ganda.Jakarta: FKM UI.
BKKBN. 2006. Buku Pedoman Advokasi dan KIE Pogram KB Bagi
Tokoh Agama Islam. Jakarta: BKKBN Propinsi JABAR.
Budiarto E. 2001. Biostatistika untuk Kedokteran dan
Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC. Budinurdjaja P. 2007. Kita Mitos Seks dan
Obat Kuat. Diakses: 26 Maret 2009. http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan--Kita,-Mitos-Seks-dan-Obat-Kuat-td11437623.html.
Damarini S. 2001. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Perilaku Seksual Remaja pada Mahasiswa Akademi Keperawatan DEPKES Curup
Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu Tahun 2001. [Skripsi] Jakarta: FKM UI
.
MK ILMU SOSIAL
BUDAYA DASAR
“BUDAYA
MASYARAKAT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN”

DISUSUN OLEH
NOVI ARIYANTI
KELAS II B KEBIDANAN
DOSEN PENGAMPUH : NENG KURNIATI, SST, SKM
D3 VOKASI
KESEHATAN PRODI KEBIDANAN FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS
BENGKULU
T.A 2016/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar