Kamis, 23 Februari 2017

jurnal kesehatan Praktik Budaya dalam Kehamilan, Persalinan dan Nifas pada Suku Dayak Sanggau



Praktik Budaya dalam Kehamilan,
Persalinan dan Nifas pada Suku Dayak Sanggau
“Edy prabowo”
                                                             abstrak






Menurut WHO, kematian ibu masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di berbagai negara di dunia dengan angka  kematian rata-rata 400 per
100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Kalimantan Barat adalah 442 / 100. 000 kelahiran hidup berada di atas angka rata-rata dunia tersebut Tujuan umum penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisa praktek budaya masyarakat Suku Dayak Sanggau yang berpengaruh terhadap kehamilan, kelahiran, dan nifas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, pengambilan data dilakukan dengan metoda wawancara mendalam, diskusi kelompok ter- arah, dan observasi. Analisis yang digunakan adalah analisi tema. Penelitian diadakan di wilayah kerja Puskesmas Sanggau pada bulan Mei 2006. dengan informan  ibu hamil, ibu nifas, bidan kampung dan ketua adat, dan ibu usia subur. Penelitian menemukan adanya bentuk praktek budaya yang memba- hayakan dan mendukung terhadap kehamilan, persalinan, dan nifas pada masyarakat Suku Dayak Sanggau. Praktek budaya yang membahayakan pada kehamilan : anjuran bekerja keras, mengurangi tidur, mengangkat peranakan. Pada persalinan : pemeriksaan dalam, tempat persalinan di dapur, nyurung, mencari badi melalui balian, pemotongan dan perawatan tali pusat, mengeluarkan tembuni dengan tangan, memandikan bayi dengan air sungai, memberi minum air jahe ditambah tuak. Pada masa nifas: pantang makan, nyandar, dan hubungan seksual pada masa nifas. Praktek yang mendukung adalah pen- dampingan suami saat istri melahirkan, pelayanan bidan kampung yang komperhensif.
Kata kunci : Praktek tradisional kehamilan, persalinan , delivery, nifas





Kematian  ibu masih  merupakan masalah  besar  yang dihadapi  berbagai  negara  di  dunia  terutama negara berkembang. Menurut  Badan Kesehatan  Dunia (WHO), angka   kematian  ibu di seluruh  dunia diperkirakan 400 per  100.000 kelahiran  hidup.  Berdasarkan wilayah,  di negara  berkembang 440/100.000  kelahiran  hidup,  di Afrika   830/100.000   kelahiran   hidup,   di   Asia,
330/100.000 kelahiran  hidup  dan  Asia Tenggara  210 orang per 100.000 kelahiran  hidup.  Indonesia  termasuk dalam 13 negara penyumbang angka kematian  ibu terbe- sar di dunia.1 Berdasarkan hasil SDKI tahun  2002-2003 angka kematian  ibu di Indonesia adalah 307/100.000 ke- lahiran  hidup.  Jika dibandingkan dengan  target  yang ingin dicapai  oleh pemerintah pada tahun  2010  sebesar
125/100.000 kelahiran  hidup  angka tersebut masih ter- golong tinggi. Di Kalimantan Barat, angka kematian  ibu adalah  442/100.000 kelahiran  hidup.2 Pada profil kese- hatan Kabupaten Sanggau tahun 2004, jumlah kematian ibu pada sarana  kesehatan tercatat 20 orang, sedangkan kematian  di luar sarana  kesehatan tidak diketahui. Dari medical Record Rumah Sakit Umum Daerah Sanggau ke- matian  ibu bersalin  tahun  2004  sebanyak  5 orang dan 4 orang diantaranya dari suku dayak.
Masyarakat  Indonesia  terdiri  dari berbagai  suku  de- ngan latar belakang  budaya  berbeda  yang  sangat  mem- pengaruhi tingkah  laku kehidupan masyarakat termasuk perilaku kesehatan. Banyak praktek-praktek budaya yang berpengaruh secara negatif terhadap perilaku  kesehatan masyarakat, sehingga  berisiko  lebih  besar  untuk  me- ngalami infeksi.3   Pada beberapa budaya, pantang  makan pada ibu hamil dapat berpengaruh terhadap asupan gizi.4
Tingkat  pengetahuan masyarakat yang rendah  sangat mempengaruhi kesehatan ibu.  Di Nigeria,  masyarakat yang berpengetahuan rendah  akan pasrah  pada sayatan gishiri yang merupakan tindakan pembedahan pada vagi- na yang dilakukan oleh dukun  beranak  pada  kasus per- salinan  macet.5 Persepsi  masyarakat terhadap kematian ibu sebagian besar diwarnai oleh penyebab non medis seperti:  agama,  kepercayaan dan  faktor  supranatural.6
Persepsi tersebut menyebabkan perhatian terhadap kese- hatan ibu menjadi lebih rendah. Masyarakat akan bersikap  pasrah  jika dihadapkan pada ibu yang mengala- mi gawat pada saat hamil, melahirkan dan nifas.
Penduduk di Kabupaten Sanggau terdiri dari berbagai suku dengan suku mayoritas adalah suku Dayak, Melayu dan  Tionghoa.  Masyarakat  Suku  Dayak  Sanggau  seba- gian  besar  tinggal  di daerah  pedalaman yang sulit  di- jangkau  dengan alat transportasi baik darat  maupun  su- ngai. Mata  pencaharian suku  ini sebagian  besar  adalah petani  dan  buruh  perkebunan, sedangkan  tingkat  pen- didikan  mereka    masih   sangat  rendah,  sebagian  besar tidak tamat SD.7 Masyarakat Suku Dayak Sanggau masih menjunjung tinggi  adat  istiadat  yang terlihat  pada  ter- peliharanya  hukum  dan lembaga peradilan  adat. Melalui

lembaga peradilan  ini berbagai masalah sengketa internal dan  eksternal  yang timbul  di masyarakat dapat  disele- saikan.7   Uraian  di atas  mengindikasikan bahwa  ada pratek  budaya  di dalam masyarakat yang dapat  memba- hayakan kehamilan, persalinan dan nifas.

Metode
Penelitian  ini adalah  penelitian  kualitatif  dengan metode  pengumpulan data  meliputi  wawancara men- dalam,  diskusi  kelompok  terarah (DKT)  dan  observasi langsung. Wawancara mendalam  dilakukan terhadap: ke- tua adat,  dukun  beranak,  ibu hamil dan ibu nifas serta DKT pada ibu usia subur. Data kualitatif yang dikumpulkan meliputi  pengetahuan, kepercayaan, prak- tek bidan  kampung  pada persalinan, kehamilan, dan ni- fas.  Observasi  dilakukan terhadap praktek  budaya masyarakat Suku  Dayak Sanggau  dalam  proses  persali- nan dan gambaran keadaan  wilayah secara umum.
Pengolahan  data  dimulai  dengan  melakukan pe- meriksaan  terhadap kelengkapan hasil  DKT  maupun wawancara mendalam. Selanjutnya,  dilakukan pembua- tan transkrip data dari rekaman  ke tulisan segera setelah pelaksanaan wawancara dan  DKT.  Setelah  itu,  data dikelompokan sesuai  dengan  sub  topik  atau  tema  yang ditentukan, yang dilanjutkan dengan  pengkodingan, peringkasan informasi  dan  pembuatan matriks  data. Kemudian  dilakukan penafsiran guna  memberi  makna pada  berbagai  kategori  tersebut  dan menemukan pola, hubungan dan membuat temuan-temuan umum.  Untuk validasi  data  digunakan triangulasi  sumber,  triangulasi metoda  dan  analisa  data  yang dilakukan adalah  analisa tematik.  Tema   yang akan  ditampilkan dalam  pemba- hasan  ini antara  lain  meliputi:  (1)  Istilah-istilah yang berhubungan dengan proses kehamilan, persalinan, nifas dan kematian  ibu pada masyarakat Suku Dayak Sanggau. (2)  Pengetahuan,  kepercayaan dan  persepsi  pada masyarakat Suku dayak Sanggau tentang kehamilan, per- salinan dan nifas. (3) Praktek-praktek budaya yang mem- bahayakan  terhadap kehamilan, persalinan dan nifas pa- da masyarakat Suku Dayak Sanggau. (4) Praktek-praktek budaya yang mendukung terhadap kehamilan, persalinan dan nifas pada masyarakat Suku Dayak Sanggau.


Hasil Istilah Setempat
Beberapa  istilah lokal yang berhubungan dengan  ke- hamilan,  persalinan, dan  nifas  pada  masyarakat Suku Dayak Sanggau antara lain adalah: Ngidam (ngeraah),kaki bengkak  selama  hamil  (bosu,muntut), serotinus  (kandung babi),  keguguran  (mulus, kelabuh), presentasi bokong  (lipat  kajang)  presentasi kaki (turun tangga) (Lihat  tabel 1) Praktek  budaya pada kehamilan, persalinan, dan  nifas masyarakat Suku  Dayak  Sanggau pada  dasarnya  adalah  tindakan atau  kegiatan  yang di-


lakukan  oleh masyarakat sebagai suatu  upaya kesehatan diluar  ilmu kedokteran. Pada penelitian  ini praktek  bu- daya dilihat dari variabel pengetahuan, kepercayaan dan persepsi  masyarakat Suku  Dayak  Sanggau  termasuk praktek  tradisional yang dilakukan oleh dukun  bayi yang lebih dikenal dengan bidan kampung.

Pengetahuan tentang Kehamilan
Pengetahuan tentang kehamilan  mencakup tanda-tan- da  kehamilan, pemeriksaan kehamilan, makanan, dan obat-obat yang  berpengaruh terhadap kehamilan. Pengetahuan masyarakat Suku  Dayak  Sanggau  tentang tanda-tanda kehamilan  bervariasi, umumnya  mereka menyebutkan “pembesaran perut” karena  dalamnya  ada bayi yang disertai “ngeraah” (ngidam). Beberapa menye- butkan  “tidak datang bulan” , lemah badan”, pusing- pusing” (sakit kepala) dan tidak ada nafsu makan, seper- ti yang diungkapkan informan  DKT ibu usia subur:
“....tandanya perut besar ada anak kecil di dalam pe- rut.....”
“....ngeraah, pusing-pusing...”
“.... badan lemah nda ada nafsu makan..” “...nda  dapat min lagi..”
Pengetahuan masyarakat Suku  Dayak  Sanggau  ten- tang  pemeriksaan kehamilan   yang bervariasi  dapat dikelompokan menjadi:  ketersediaan tenaga,  segi man- faat dan sesuai kebutuhan (situasional). Dari segi keterse- diaan  tenaga  masyarakat sebenarnya  tahu  dan  mau memeriksakan kehamilan  ke  bidan.  Pada  umumnya mereka  menyatakan selama  hamil  paling  tidak  harus memeriksakan kehamilan  sebanyak 3-4 kali. Pemeriksaan kehamilan  ke bidan  kampung  biasanya dilakukan untuk meluruskan letak  bayi melalui  teknik  mengangkat kan- dungan  seperti  hasil  wawancara mendalam  dengan  in- forman  ibu hamil sebagai berikut:
“...  kame mau  bah  periksa  ke  bu  bidan,  tapi  bu bidan  bah  jarang ada  di sini  jadi terpaksa  kame  nda periksa......biasa 3 sampai  4 kali bah kame’  periksa  se- lama hamil”
Beberapa  informan  juga yang menyatakan memerik- sakan kehamilan  mereka tidak secara rutin.
“...hamilkan sudah  biasa jadi kalau  nda sakit kame’
nda periksa...”
Dari segi manfaat,  masyarakat Suku Dayak Sanggau menganggap bahwa  pemeriksaan kehamilan   dapat

menyehatkan bayi dan ibunya, memperlancar proses per- salinan,  diungkapkan oleh  informan  ibu  hamil  sebagai berikut:
“.. ya.. biar sehat bayinya  dan juga ibunya  lah ...”
Pengetahuan masyarakat Suku  Dayak  Sanggau  ten- tang makanan  yang sehat selama masa kehamilan  dapat dikelompokan menjadi  dua  kelompok  yaitu aspek  jenis dan aspek jumlah makanan. Dari segi jenisnya, makanan yang dianggap  sehat untuk  ibu hamil adalah  sayuran  hi- jau,  ikan  dan  daging,  sebagaimana yang diungkapkan oleh informan  ibu hami sebagai berikut:
“... yang  bagus  tu..  sayur  yang  hijau-hijau macam daun ubi..”
“... ikan  kalau  ada juga bagus”
Dari segi banyaknya makanan  yang dimakan masyarakat Suku Dayak Sanggau sebagian besar berang- gapan bahwa ibu hamil harus banyak makan, alasan masyarakat karena  makanan  tersebut untuk  dua  orang yaitu ibu dan bayinya, seperti  yang dikatakan informan bidan kampung  sebagai berikut:
“.. ibu hamil tu harus banyak makan biar kuat  kerja karena  yang makan berdua ibu dan anaknya bah..”
Sehubungan dengan  obat-obat yang diminum  oleh ibu selama hamil, masyarakat Suku Dayak Sanggau tidak mengenal  obat-obat kampung  dan selama masa kehami- lan mereka  tidak berani  meminum  obat sembarang,  de- ngan alasan takut mengalami gangguan pada janin mere- ka.  Umumnya  para  informan  menyatakan bahwa  obat yang diminum  harus obat yang berasal dari bidan,
“...nda  beranilah  minum obat  sembarangan takut nanti  bayinya  nda sehat..”

Pengetahuan tentang Persalinan
Pengetahuan tentang  persalinan meliputi:  tanda-tan- da persalinan, penolong  persalinan, tempat  persalinan, kelainan  selama persalinan, dan obat-obatan.
Tanda-tanda persalinan yang diketahui  oleh masyarakat Suku Dayak Sanggau meliputi  keluar  lendir darah  atau calak, perut  mulas, sakit pinggang, pecah air ketuban atau  piying ntutup. Menurut mereka, tanda-tan- da tersebut akan muncul ketika saat melahirkan sudah ti- ba,  yang biasanya  terjadi  pada  usia kehamilan  9 bulan dan 10 hari atau 40 minggu, seperti  dinyatakan oleh in- forman  DKT ibu usia subur:
“...tandanya keluar calak, perut mulas....biasa umur
9 bulan 10 hari..”
“...sakit  pinggang gak, perut mulas trus keluar piying ntutup..”
Hampir  semua  informan  menyatakan bahwa  peno- long  persalinan adalah  dukun  bayi yang mereka  sebut (bidan  kampung). Setiap  persalinan umumnya  ditolong oleh tiga orang bidan kampung dengan tugas yang berbe- da,  yang meliputi  pendorong perut  ibu,  pemegang  ibu dan penerima  bayi.



“... kalau kame disini dengan bidan kampung.... abis dekat gampang  manggilnya”
“... kalau dengan bidan kampung semua diurus bayi, ibu dan tembuninya..”
“... biasa bertiga bidan  kampungnya.. kan  ada yang megang, ada yang ndorong ada gak yang nangkap bayinya..”
Sehubungan dengan  tempat  persalinan, semua infor- man menyatakan bersalin rumah sendiri ruangan  bersalin yang bervariasi,  ada yang menyebutkan di kamar dengan alasan supaya tidak dilihat banyak orang dan agar mudah membersihkannya. Namun,  beberapa informan   menya- takan  bersalin  di dapur,  dengan  alasan  mudah  member- sihkan  karena  air  mudah  diperoleh. Mereka  membuat lobang pada lantai atau dialasi dengan plastik. Berikut pernyataan informan  DKT ibu usia subur:
“... Biasanya  kalau  melahirkan di kamar  biar nda malu...biasa dibuat  lobang  biar  gampang  member- sihkannya...”
“...kalau kame  di  dapur  biar  gampang  member- sihkannya kan banyak air...”
Pengetahuan masyarakat tentang  kelainan  yang terja- di selama proses   persalinan dapat  dilihat  dari aspek ke- sehatan  dan  kepatuhan. Dari  segi kesehatan informan menyatakan kelainan  yang terjadi  biasanya  perdarahan dan tembuni yang tinggal dalam rahim.
“...biasanya tembuninya tinggal dalam  perut..” “...perdarahan juga sering waktu melahirkan..”
Dari segi kepatuhan, menurut informan  kelainan  ter- jadi akibat si ibu atau suaminya melanggar  pantang  yang biasa  dipercayai  masyarakat setempat. Seperti  yang di- ungkap  informan  DKT ibu usia subur:
“...bisa jak karena  ibunya  atau suaminya melanggar pantang..”
Masyarakat  tidak pernah mengenal obat-obat yang di- gunakan   selama  pr oses  persalinan,  seperti  yang terungkap dari informan  berikut  ini.
“... nda ada obat-obatan yang diberikan,... biasanya kalau  tidak lancar dikasih  minum air selusuh”

Pengetahuan tentang Nifas
Pengetahuan masyarakat tentang  masa nifas meliputi aspek  waktu,  mobilisasi,  obat-obat, makanan, dan hubungan seksual.
Masyarakat  Suku Dayak Sanggau tidak mengenal isti- lah  nifas  karena  itu  digunakan istilah  masa  setelah melahirkan. Menurut  masyarakat Suku  Dayak  Sanggau lamanya masa nifas bervariasi  ada yang menyatakan satu minggu,  dua  minggu  dan  satu  bulan  mereka  tidak  tahu secara pasti berapa lamanya masa nifas, seperti diungkap informan  DKT ibu usia subur  sebagai berikut:
“... seminggu  ..” “.. sebulan  bah..”
“...bisa gak dua minggu..”

Pendapat masyarakat Suku  Dayak  Sanggau  tentang lama waktu setelah melahirkan ibu boleh beraktivitas ju- ga bervariasi.  Ada yang berpendapat jika sehat ibu dapat langsung  bergerak,  ada  juga  yang berpendapat setelah tiga  hari  baru  boleh  bergerak, tetapi  sebagian  besar menyatakan bahwa  setelah  melahirkan langsung  dapat melakukan aktifitas  seperti  biasanya,  seperti  yang di- ungkap  informan  DKT ibu usia subur:
“..tiga hari baru boleh jalan biar kuat”
“..kalau  saya langsung jak jalan yang penting kuat”
Pendapat mereka  tentang  obat-obatan cenderung pa- da ramuan  tradisional yang diberikan oleh  bidan  kam- pung seperti minuman yang terbuat dari campuran tuak, liak  (jahe)  dan  gula.  Tujuannya  agar  badan  hangat  se- hingga darah  dan darah  beku dapat  cepat keluar dan air susu  lancar.  Namun  ada  juga yang minum  kopi  supaya badan hangat dan tidak lemah. Selain minuman, mereka juga memberikan  bedak  yang terbuat dari kunyit,  liak, dan  kencur  pada  perut  ibu  dengan  tujuan  agar  kandu- ngan cepat kembali muda,  seperti  yang dikatakan infor- man DKT ibu usia subur:
“.. kalau  habis  melahirkan dikasih  minum air liak dicampur  tuak...biar badan  panas..darah kotor  cepat keluar”
“...iya biar badan panas dan air susu cepat keluar” “... minum kopi biar badan kuat  nda lemah..” Menurut masyarakat, makanan  yang baik untuk  ibu
nifas adalah makan nasi dicampur garam dan sayur daun bungkal,  selain  itu dapat  ditambah ikan  asin atau  ikan teri.
“....kalau habis melahirkan hanya makan nasi pakai garam dan daun bungkal”
Masyarakat Suku Dayak Sanggau tidak mempunyai konsep hubungan suami istri setelah melahirkan yang je- las. Hubungan suami istri bisa dilakukan, seminggu, dua minggu  atau  satu  bulan  setelah  melahirkan, seperti pernyataan informan  DKT ibu usia subur  berikut:
“...biasanya sebulan  sesudah  melahirkan..” “...kalau menurut saya dua minggu..”
“...seminggu gak  boleh  kalau  suaminya mau  gi- mana..”

Kepercayaan tentang Kehamilan
Kepercayaan masyarakat Suku Dayak Sanggau pada saat  hamil  meliputi  pantangan dan  anjuran. Pantangan yang dilakukan masyarakat yang berhubungan dengan ibu hamil meliputi  pantang  makan  dan pantang  perbua- tan.  Pantangan makan  pada  saat  hamil  menur ut masyarakat Suku  Dayak  Sanggau  tidak  terlalu  banyak mereka  hanya  melarang  ibu  hamil  untuk  tidak  makan daging binatang yang hidup didalam lobang seperti treng- giling, daging ular dan daging labi-labi (sejenis kura-ku- ra)  dengan  alasan  takut  kalau  melahirkan akan  susah keluar  (persalinan macet).  Keyakinan  tersebut didapat



secara turun  temurun dan harus ditaati agar tidak terke- na badi (kualat  atau dampak melanggar pantang), seper- ti pendapat informan:
“...yang  nda  boleh  makan daging  labi-labi,  ular, tenggiling nanti  kena badinya..anaknya susah lahir”
Pantangan perbuatan menurut masyarakat meliputi perbuatan yang  tidak  boleh  dilakukan oleh  suami maupun  istri  yang sedang  hamil.  Perbuatan yang tidak boleh  dilakukan istri  seperti  duduk  ditengah  lawang (pintu), duduk  di tangga,  menjahit  bantal,  merendam pakaian,  dan duduk  diatas lesung. Pantangan yang tidak boleh dikerjakan suami adalah  memasang  pukat  (jaring untuk  menangkap ikan),  memasang  tajur  (pancing), mengisi peluru,  menambal  perahu,  menangkap binatang yang hidup  dalam lobang dan membendung parit  (anak sungai) dan sawah. Alasan dilakukan pantangan tersebut agar ibu melahirkan dengan  lancar,  seperti  yang disam- paikan informan  ibu hamil:
“....banyak pantangnya nda boleh duduk di lawang, duduk dilesung,  menjahit bantal.....kalau suami  nda boleh najur, masang pukat....pokoknya banyak bah”
Anjuran  yang  harus  dipatuhi   masyarakat Suku Dayak Sanggau  adalah  ibu hamil harus  banyak  bekerja tidak  boleh  banyak  tidur  karena  diyakini  kalau  banyak tidur  bayinya akan lengket pada tulang  belakang  ibu se- hingga akan susah waktu melahirkan.
“...kalau ibu  hamil  jangan  banyak tidur  harus banyak kerja, nanti  bayinya  lengket ke tulang belakang susah lahirnya”

Kepercayaan tentang Persalinan
Kepercayaaan masyarakat tentang  pantang  dan anju- ran pada saat persalinan tidak sebanyak seperti pada saat hamil.  Pantangan tentang  makanan  tidak  ada,  sedang pantang  perbuatan biasanya  untuk  pihak  suami  yaitu sama  dengan  pantangan waktu  hamil.  Anjuran  yang diyakini  harus  dilakukan adalah  membuka semua  yang tersumbat atau tertutup, misalnya  membuka tutup  tem- payan mengosongkan peluru  dalam  senapan,  membuka bendungan air sawah. Tujuannya  adalah agar persalinan lancar,  seperti yang disampaikan informan  ketua adat:
“...nda ada pantangan lain sama jak waktu hamil..trus waktu mau  melahirkan harus membuka se- mua yang tertutup atau tersumbat macam  tempayan trus peluru dalam  senapang  juga harus dikeluarkan..”

Kepercayaan tentang nifas
Kepercayaan masyarakat tentang  pantangan dan an- juran  pada  saat  nifas  ditujukan pada  ibu  yang habis melahirkan. Pantangan yang banyak  berupa  pantangan makan. Ibu yang baru melahirkan dipantang untuk tidak makan  daging,  telur,  ikan,  sayuran  yang bersifat  dingin seperti  labu  air,  timun,  perenggi (waluh), dan  sayuran berbumbu, lamanya  pantangan tergantung dari  jenis

makanannya seperti:  daging rusa selama tiga bulan,  da- ging ayam selama satu bulan, daging babi selama delapan hari,  daging  sapi  satu  bulan,  telur  satu  bulan,  sayuran yang bersifat dingin juga satu bulan dan sayuran berbum- bu  satu  bulan.  Jika dilanggar  maka  bayi dan  ibu  akan terkena  badi, karena  ibu yang habis melahirkan badan- nya bersifat  dingin dan jika dimakan  maka akan sakit.
“..pantang untuk ibu habis melahirkan banyak nda boleh  makan daging babi delapan  hari, ayam  sebulan, sapi  sebulan,  ular setahun rusa  tiga bulan  pokoknya banyaklah..”
Anjuran  yang diyakini  baik  untuk  ibu  yang habis melahirkan adalah  duduk  nyandar  (kaki  lurus  badan nyandar  didinding) selama  satu  bulan  biar  darah  putih tidak  naik  ke kepala,  takut  jadi  gila bisa  juga  buta. Makanan  yang dianjurkan nasi putih  dengan  garam dan daun bungkal  selama tiga hari
“..sebaiknya makan nasi dengan  garam sayur daun bungkal  ...tiga hari biasanya..”

Persepsi tentang Kehamilan, Persalinan, dan Nifas
Persepsi  masyarakat terhadap kehamilan, persalinan dan nifas adalah pandangan masyarakat terhadap bahaya kehamilan, bersalin  dan nifas juga pandangan terhadap kejadian kematian  ibu. Masyarakat  Suku Dayak Sanggau mempunyai  pandangan tersendiri terhadap bahaya  ke- hamilan,  persalinan dan  nifas.  Menurut  sebagian  besar informan  saat  yang berbahaya  adalah  saat  melahirkan karena pada saat itu ibu bisa mengalami perdarahan, per- salinan macet, sedangkan  pada saat hamil dan nifas tidak berbahaya  karena  hamil dan nifas bersifat  alami. Tetapi ada  sebagian  kecil  informan  yang mengatakan bahwa hamil, bersalin dan nifas berbahaya. Menurut  mereka pa- da saat hamil jika ibu tidak sehat nantinya susah melahirkan, sedangkan  pada saat melahirkan bahaya jika terjadi perdarahan, partus macet. Pada masa nifas berba- haya karena  badan  lemah, demam.
“..yang bahaya  tu waktu melahirkan bisa mati,  tapi kalu hamil  sih nda..kan udah biasa perempuan hamil” Sedang persepsi masyarakat terhadap kejadian kema- tian ibu mereka berpandangan bahwa kalau ibu mati itu sudah  ajalnya,  sudah  waktunya, mereka  memandang
Darisudut  agama.
“..itulah  kalau  mati sudah  panggilan tuhan” “..sudah  sampai  janjinya  bah..”
Sedangkan persepsi  mereka tentang  penyebab  kema- tian  ibu  bervariasi  dari  segi medis  dan  dari  segi non medis.  Dari  segi medis  mereka  beranggapan kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, sakit,  sedangkan  dari segi non medis mereka  menganggap penyebabnya kare- na hantu.
“..biasanya akibat  penyakit..” “..karena  darah banyak keluar..” “..karena  hantu..”



Praktek Bidan Kampung
Praktek  yang dilakukan oleh bidan  kampung  selama kehamilan  adalah  melakukan pengangkatan peranakan (kandungan) untuk membetulkan letak janin dan pengu- rutan  untuk  membuat tubuh  ibu merasa enak. Hal terse- but biasanya dilakukan tiga kali selama masa kehamilan. Seperti yang dikatakan informan  berikut:
“...iya biasa kalau mereka periksa ke emak minta  di- urut juga emak angkat peranakannya biar letak bayinya benar....biasa tiga kali selama kehamilan”
Praktek  yang dilakukan oleh bidan  kampung  selama proses  persalinan meliputi;  pemeriksaan presentasi (letak)  janin dengan  memasukan tangan  ke dalam vagi- na; pertolongan mengeluarkan janin dengan mendorong perut  ibu atau nyurung,  pemotongan dan perawatan tali pusat, membantu mengeluarkan tembuni dengan tangan (manual placenta). Bidan  kampung  memastikan letak terendah janin  dengan  pemeriksaan dalam  (vaginal touche). Pada  saat  pemeriksaan dalam,  tangan  dukun tidak  menggunakan sarung  tangan  kare  dan  suci hama (strerilisasi). Tangan hanya dicuci dengan air yang dicampur daun sirsak, seperti  dinyatakan oleh informan bidan kampung  sebagai berikut:
“....biasanya emak kalau ingin tahu kepala atau pan- tat yang dibawah, caranya  emak  memasukkan tangan emak  kedalam barang  perempuan (vagina)  tu...untuk mencuci  tangan  emak  memakai air ditambah dengan daun sirsak”
Praktek  pertolongan persalinan tersebut dikonfir- masikan  melalui observasi  peneliti  pada observasi  prak- tik  pertolongan persalinan oleh  bidan  kampung. Dari hasil  observasi,  pertolongan persalinan dilakukan oleh tiga  orang  bidan  kampung. Bidan  kampung  pertama bertugas  sebagai  bidan  utama  yang mendorong bayi, memotong   dan  merawat  tali  pusat;  bidan  kampung kedua  bertugas  menerima  bayi; bidan  kampung  ketiga bertugas  menenangkan dan memegang  ibu. Bidan kam- pung utama mendorong perut ibu (nyurung) tanpa meli- hat kelengkapan pembukaan kandungan. Tali pusat dipo- tong dengan menggunakan sembil (bambu) diatas balok kayu setelah tembuni lahir. Pemotongan harus dilakukan di atas  mata  tali  pusat  agar  tidak  terjadi  perdarahan. Setelah pemotongan, tidak dilakukan pengikatan. Ujung tali pusat dibubuhi kopi dan dimanterai oleh bidan kam- pung utama.  Pada pangkal  tali pusat juga diberi ramuan yang terdiri dari jelaga, daun nangka kering dan air ludah bidan  kampung  yang makan  sirih,  dengan  tujuan  agar tali pusat cepat lepas.
Hasil wawancara mendalam  dengan  bidan  kampung diketahui  bahwa  jika setelah  15  menit  placenta  tidak lahir,  bidan  kampung  akan  mengeluarkan placenta  de- ngan  tangan  yang tidak  menggunakan sarung  tangan. Tembuni  yang sudah  keluar  dibersihkan, diberi  garam dan  disimpan  dalam  keranjang   bambu,  kemudian

ditenggelamkan di sungai atau digantung  di pohon  kayu yang tinggi,  seperti pernyataan berikut:
“... kalau  emak  tunggu  15 menit  nda  keluar,  emak masukkan tangan  kedalam barang  perempuan tu  de- ngan  mengikuti tali  pusat,  dah  itu  baru  tembuninya emak  tarik....tembuninya  dikerjakan dikasih  garam terus digantung  dipohon  tinggi atau di tenggelamkan di sungai..”
Dari observasi  diketahui  bahwa  bayi yang baru  lahir segera  dimandikan dengan  air di dalam  ember.  Setelah itu, bayi dibungkus dengan  kain dan diserahkan kepada ibunya.  Perut  ibu diberi  bedak  yang terbuat dari kunyit dan  liak  yang  ditumbuk agar  ibu  merasa  hangat. Kemudian  perut ibu dililit dengan kain setagen agar pera- nakan  ibu cepat  kembali  normal.  Setelah  itu ibu diberi minum tuak dicampur air rebusan  jahe, agar darah kotor cepat  keluar  dan  merangsang  keluarnya  ASI (Air Susu Ibu).  Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan infor- man DKT ibu usia subur.
“.. kalau  habis  melahirkan dikasih  minum air liak dicampur  tuak...biar badan  panas..darah kotor  cepat keluar”
“...iya biar badan panas dan air susu cepat keluar”
Pada saat nifas praktek  budaya yang dilakukan hanya melakukan pengurutan pada ibu.

Pembahasan
Istilah  atau  bahasa  daerah  setempat  yang berhubu- ngan  dengan  kehamilan, persalinan, dan  nifas  penting untuk  diketahui  dan  diidentifikasi. Dengan  memahami istilah setempat secara benar akan mempermudah melakukan pendekatan dan intervensi. Memahami istilah setempat  juga akan mengurangi hambatan dalam berko- munikasi  dengan  masyarakat, sehingga  hal-hal  penting yang akan disampaikan dapat  diterima  secara utuh

Pengetahuan
Sebagian  besar  masyarakat Suku  Dayak  Sanggau mempunyai  pengetahuan tentang  kehamilan  yang tergo- long  baik  yang  mendukung kesehatan ibu  hamil. Pengetahuan tentang  tanda-tanda kehamilan  kemungki- nan di dapat  dari inner proses  yang merupakan akumu- lasi pengalaman yang didapat  sebelumnya. Pengetahuan tentang  pemeriksaan kehamilan  sudah  tergolong  baik, perilaku  memeriksakan kehamilan  pada bidan kampung terjadi  akibat  tenaga  kesehatan yang tidak  tersedia. Dalam  perilaku,  ketersediaan tenaga  merupakan faktor enabling.8  Namun,  sebagian  kecil  masyarakat Suku Dayak  Sanggau  berpengetahuan yang membahayakan kehamilan, yaitu menganggap tidak perlu memeriksakan kehamilan  jika tidak  ada  gangguan.  Pengetahuan  yang rendah  tentang  pemeriksaan kehamilan  pada  sebagian kecil informan  disebabkan oleh  kurang  informasi  dari petugas  kesehatan ataupun media lainnya.  Hal ini dise-



babkan  oleh petugas  yang jarang di tempat  serta  sarana informasi dan transportasi yang kurang. Pengetahuan se- bagian  besar  masyarakat Suku  Dayak  Sanggau  tentang nutrisi  untuk  ibu hamil ternyata  sudah tergolong  cukup. Pengetahuan tersebut kemungkinan didapat  secara turun temurun, dan  pengalaman sebelumnya  yang didukung oleh  ketersediaan sumber  makanan. Pengetahuan masyarakat tentang  penggunaan obat-obatan selama masa kehamilan  sudah  tergolong  baik yang mungkin  di- dapat  dari pengalaman sebelumnya.
Pengetahuan masyarakat tentang tanda-tanda persali- nan  meliputi  keluarnya  lendir  bercampur darah  atau calak, perut mulas, sakit pinggang, pecahnya air ketuban atau   piying ntutup. Tanda-tanda tersebut akan muncul jika saat melahirkan tiba, biasanya pada umur kehamilan
9 bulan  dan  10  hari  atau  40  minggu.  Fenomena  yang mendahului permulaan persalinan adalah  sekresi vagina bertambah banyak, ada lendir darah (bloody show),  nye- ri pinggang  terus  menerus,  terjadi  his (kontraksi uterus yang menyebabkan rasa  mulas).9  Itu  berarti  bahwa pengetahuan masyarakat Suku  Dayak  Sanggau  tentang tanda-tanda persalinan tergolong  baik.  Pengetahuan tersebut kemungkinan di dapat  dari  inner  proses  yang merupakan akumulasi  dari pengalaman yang didapat  se- belumnya. Pengetahuan tentang  pilihan tenaga penolong persalinan pada  bidan  kampung  sesuai  dengan  hasil penelitian    di Kabupaten Jayapura  dan  Puncak  Jaya. Sebagian  besar ibu meminta  pertolongan persalinan pa- da dukun  beranak  dan  teman  sebaya.10   Di Kabupaten Sintang  Kalimantan Barat  sebagian  besar  masyarakat memilih  persalinan pada  dukun  beranak. Pilihan  pada tenaga  bidan  kampung  tersebut disebabkan oleh keter- batasan  tenaga tenaga bidan yang belum mencakup selu- ruh desa.11
Pemilihan tempat  persalinan di rumah tempat  tinggal di kamar tidur atau dapur  karena  pertimbangan  merasa lebih familiar dan tidak perlu susah-susah membawa  ibu keluar  dari rumah.  Masyarakat  di  Jayapura dan Puncak jaya melaksanakan persalinan di rumah  agar tidak susah membawa  keluar rumah  dan lebih banyak keluarga yang bisa membantu.10 Masyarakat  juga memilih dapur  seba- gai tempat  melahirkan dengan alasan lebih mudah untuk membersihkannya. Hal ini juga sejalan dengan penelitian tentang konsep tata ruang bersih dan kotor pada suku kerinci. Kelahiran dianggap sebagi proses yang kotor ma- ka proses tersebut harus  dilakukan di ruang  kotor  yaitu dapur.3 Bagaimanapun, pemilihan  dapur  sebagai tempat persalinan akan meningkatkan resiko infeksi nifas dan in- feksi pada bayi.
Menurut masyarakat, kelainan yang sering terjadi pa- da saat melahirkan meliputi kelainan yang bersifat medis yaitu  perdarahan dan  retensio  placenta  (ari-ari  yang tertinggal  dalam rahim), serta kelainan akibat melanggar pantang. Pengetahuan masyarakat tentang  perdarahan

sudah tergolong  baik, karena mereka beranggapan darah keluar yang melebihi biasanya dapat  membahayakan ke- selamatan ibu. Menurut  mereka  jika perdarahan terjadi maka  mereka  harus  segera  merujuk  ke fasilitas  kese- hatan.  Pengetahuan tersebut mungkin  didapat  dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Selain  itu, masyarakat Suku Dayak Sanggau  tidak  mengenal  peng- gunaan  obat-obatan selama  proses  persalinan, mereka hanya mengenal  air selusuh  (air yang sudah  dimantrai) untuk  memperlancar proses  persalinan. Penggunaan obat-obatan selama  proses  persalinan hanya  boleh  di- lakukan  oleh tenaga  kesehatan. Pada  proses  persalinan pemberian obat dilakukan jika ada kelainan  selama pro- ses persalinan seperti  pemberian oksitoksin  pada induk- si persalinan.9
Masyarakat Suku Dayak Sanggau tidak mengenal konsep  masa  nifas,  mereka  tidak  tahu  berapa  lamanya masa nifas. Menurut meraka  lamanya masa nifas tergan- tung masing-masing kondisi ibu. Masa nifas dimulai sete- lah kelahiran  placenta  dan berakhir  ketika alat-alat  kan- dungan  kembali  seperti  keadaan  sebelum  hamil.  Masa nifas berlangsung kurang lebih enam minggu.12 Aktifitas ibu nifas biasanya tergantung dari kondisi kesehatan ibu, ada yang beranggapan setelah  tiga hari baru  boleh  ber- aktifitas.  Semakin  cepat mobilisasi  ibu semakin  mengu- rangi  resiko  terjadinya  trombopleblitis. Ramuan  tradi- sional yang diberikan pada masa nifas yang mengandung alkohol  tidak  baik  bagi  kesehatan ibu  dan  produksi ASInya. Selain itu, pantang makan selama masa nifas menyebabkan asupan gizi ibu menjadi berkurang dengan segala resikonya.  Hubungan suami  istri yang dilakukan pada masa nifas dapat meningkatkan resko demam nifas, hal tersebut disebabkan proses persalinan belum sembuh sempurna.

kepercayaan
Kepercayaan pada masa kehamilan  yang berlaku  pa- da  masyarakat Suku  Dayak  Sanggau  dapat  dibedakan atas pantangan dan anjuran. Pantangan pada  ibu hamil meliputi pantang makan dan pantang perbuatan. Pantangan makan ternyata  tidak terlalu banyak,  mereka hanya melarang  ibu hamil untuk  tidak makan daging bi- natang  yang hidup  didalam  lobang  seperti  trenggiling, daging ular dan daging labi-labi (sejenis kura-kura). Tujuan  pantang  tersebut selain takut  akan  terjadi  ham- batan  pada  persalinan juga  takut  kalau  anak  yang di- lahirkan akan memiliki sifat seperti hewan tersebut. Pantang  tersebut secara langsung tidak berdampak pada kesehatan ibu.  Pantangan yang ditujukan pada  ibu dan suami bertujuan untuk  memperlancar proses kehamilan. Pantangan tersebut bersifat  netral  karena  tidak  berpe- ngaruh  langsung  terhadap kesehatan ibu. Anjuran  pada ibu   hamil  meliputi  pengurangan waktu    dan  banyak melakukan pekerjaan sehari-hari  yang seperti  ke sawah,



mencari  kayu, menyadap  karet.  Hal tersebut bertujuan agar bayi dalam kandungan tidak lengket pada tulang be- lakang ibu sehingga mengalami kesulitan pada saat melahirkan, dapat  membahayakan kandungan dan kese- hatan  ibu.
Pada masa persalinan berlaku  hanya anjuran  perbua- tan pada suami. Anjuran tersebut bertujuan untuk  mem- perlancar proses  persalinan. Pantangan pada  masa  per- salinan secara tidak berdampak langsung pada kesehatan ibu. Bidan kampung  akan berupaya  mengetahui pelang- garan pantang  yang dilakukan oleh suami apakah selama kehamilan. Jika hal tersebut terjadi,  maka  suami  wajib menghilangkannya, misalnya membongkar kembali tam- balan pada perahu.  Kewajiban  suami mendampingi istri saat melahirkan akan meringankan beban  psikis istri se- hingga merasa lebih tenang.
Tujuan  pantangan pada  masa  nifas   untuk  menjaga kesehatan ibu  dan  anak.  Jika ibu  melanggar  pantang makan daging dan telur sebelum waktunya, maka anaknya akan menderita penyakit gatal-gatal dan hernia. Makanan  yang dimakan  ibu  akan  diteruskan ke anak melalui air susu. Sedangkan jika pantang  makan sayuran yang berjenis  dingin  akan  menyebabkan ibu sakit  yang sesuai dengan konsep “panas dingin”. Makanan yang di- pantang  pada  dasarnya  bernilai  gizi tinggi  yang sangat diperlukan oleh ibu. Pada saat nifas ibu dianjurkan untuk makan  nasi  dengan  garam,  sayur  daun  singkong,  dan daun bungkal.  Makanan  yang dianjurkan pada ibu nifas tersebut tampaknya bernilai  gizi yang rendah.  Dengan demikian,  pelaksanaan pantangan dan anjuran   tersebut maka  akan  berakibat pada  penurunan  asupan  gizi ibu berkurang,   yang berpengaruh terhadap kualitas  dan kuantitas air susu ibu. Hal tersebut akan mempengaruhi asupan  gizi pada  bayi dengan  segala  resikonya.  Selain itu, ibu nifas dianjurkan untuk  nyandar  yaitu dalam po- sisi punggung  tegak  dan  kaki  lurus.  Hal  tersebut di- lakukan  selama  sekitar  satu  bulan,  tetapi  ada  yang ku- rang  dari  itu.  Hal  tersebut bertujuan agar  darah  putih tidak naik ke kepala yang dapat  menyebabkan ibu men- jadi gila dan buta.  Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian   pada  masyarakat Sunda  di  Kabupaten Sukabumi14 dan di Kabupaten Serang dan Pandeglang.6
Anjuran tersebut membuat ibu tidak beristirahat dengan nyaman  sehingga  dapat  mengganggu  kesehatan ibu dan meningkatkan resiko tromboplebitis.
Sebagian  besar  informan  beranggapan saat  yang berbahaya  adalah  pada  waktu  ibu  bersalin,  sedangkan pada saat hamil dan nifas dianggap tidak berbahaya. Hal tersebut sangat membahayakan kesehatan ibu hamil dan ibu nifas karena  mereka  menganggap keadaan  tersebut normal,  sehingga  tidak  ada upaya pencegahan. Persepsi kematian  sebagian  besar  informan  lebih  banyak  dipan- dang  dari  aspek  agama  yang merupakan takdir.  Hal ini sejalan  dengan  penelitian  pada  masyarakat Suku Sunda

di Kabupaten Pandeglang  dan  Kabupaten Serang  yang menemukan bahwa  kejadian  kematian   merupakan takdir.6 Cara pandang  tersebut sangat berbahaya  karena masyarakat akan bersikap apatis jika berhadapan dengan ibu  yang dalam  keadaan  kritis,  mereka  tidak  berusaha untuk  merujuk  ke fasilitas kesehatan.

Praktek Budaya

Pada penelitian  ini praktek  budaya terhadap kehami- lan, persalinan, dan nifas dapat  di bagi menjadi  praktek budaya  yang mendukung dan  membahayakan. Praktek budaya tersebut didapat  dari pengetahuan, kepercayaan, persepsi  dan  tindakan yang dilakukan oleh bidan  kam- pung pada masyarakat Suku Dayak Sanggau. Paktek bu- daya yang membahayakan kehamilan  adalah  adanya an- juran  selama  hamil  ibu  harus  tetap  beraktifitas rutin. Masyarakat  Suku Dayak Sanggau sebagian  besar beker- ja sebagai  petani  dengan  ibu rumah  tangga  melakukan pekerjaan tersebut mendampingi suami. Porsi pekerjaan wanita  di ladang  lebih  berat  daripada pria.  Pada  saat hamil, hal tersebut tetap dilakuakn sehingga  memperbe- sar resiko  aborsi  pada  trimester pertama dan  lahir  pre- matur  pada trimester keempat.  Padahal mereka seharus- nya tidak  melakukan pekerjaan yang terlalu  berat.13
Teknik mengangkat peranakan yang dilakukan minimal tiga kali selama masa kehamilan  olah bidan kampung da- pat membahayakan bagi keselamatan ibu dan janinnya. Tindakan  tersebut dapat  menyebabkan robeknya  kan- dungan  (ruptur uteri) dan kematian  janin.
Pada  masa  persalian, banyak  praktek  budaya  yang membahayakan kesehatan ibu  dan  bayinya.  Penolong persalian  yang dipilih adalah  bidan kampung karena  se- lalu  ada  jika dibutuhkan.  Pertolongan persalinan oleh bidan kampung  tentu  akan berisiko kematian  ibu tinggi. Meskipun  terlatih, pertolongan dukun  kampung  terbuk- ti  tidak  menurunkan tingkat  kematian  ibu.15  Tindakan mengetahui letak  terendah bayi (presentasi) dengan memasukkan tangan kedalam rongga vagina tanpa meng- gunakan  sarung  tangan.  Sebelum  melakukan tindakan tersebut bidan kampung mencuci tangan dengan air yang dicampur daun sirsak. Tindak tersebut dapat meningkatkan r esiko  infeksi  pada  ibu  dan  janin. Persalinan  yang dilakukan di dapur tidak memenuhi  azas bersih  alat, bersih  tempat,  ini akan memperbesar resiko terjadinya  infeksi, terutama infeksi nifas.Untuk memper- mudah  proses  persalinan bidan  kampung  melakukan dorongan(nyurung) pada  perut  ibu  (pundus uteri). Tindakan tersebut sangat berbahaya  karena dapat menye- babkan sobeknya rahim (ruptur uteri). Tindakan tersebut dilakukan tanpa  mempertimbangkan kelengkapan pem- bukaan  kandungan. Tindakan  tersebut dilakukan beru- lang-ulang  sampai  bayi lahir.    Bidan  kampung  tidak segera  merujuk  persalinan lama  rumah  sakit  atau puskesmas. Biasanya  mereka  berusaha untuk  mencari



penyebab hambatan tersebut melalui teknik perdukunan (belian). Upaya tersebut dapat  memperlambat rujukan sehingga membahayakan keselamatan ibu dan bayi.
Dari hasil observasi pemotongan tali pusat dilakukan setelah  placenta  lahir,  pemotongan dilakukan dengan menggunakan sembilu  hal  tersebut sejalan  dengan penelitian  Hasil  penelitian  Giay10  alat  pemotongan tali pusat  pada  masyarakat di Jayapura  dan  Puncak  Jaya adalah bambu,  silet bekas, gunting steril, silet yang dire- bus dengan kulit gaba-gaba.  Pemotongan tali pusat sete- lah placenta  lahir dapat  menyebabkan perdarahan pada bayi,  sedangkan   pemotongan dengan  sembilu  akan meningkatkan resiko infeksi pada bayi. Pemotongan tali pusat  dilakukan di atas  mata  tali  pusat,  yang diyakini tidak  menyebabkan perdarahan  sehingga  tidak  diper- lukan  pengikatan. Ujung tali pusat  yang telah  dipotong diberi  kopi  dan  kemudian dilakukan mantera. Pangkal tali pusat  diberi  ramuan  jelaga bercampur daun  nangka kering  dan  air  ludah  orang  yang mengunyah  sirih. Praktek  tersebut dapat  menyebabkan infeksi pada masa neonatus. Apabila tembuni  (plasenta) tidak lahir selama limabelas  menit,  dilakukan penarikan dengan  cara memasukkan tangan  ke dalam  rahim  mengikuti  tali pusat.  Praktek  tersebut dapat  menyebabkan robeknya rahim dan meningkatkan resiko infeksi pada ibu. Setelah memotong  tali pusat,  bayi dimandikan dengan  air yang diambil  dari  sungai  hal  ini dapat  menyebabkan bayi mengalami  hypotermi (suhu  tubuh  dingin)  ini sangat berbahaya  bagi  bayi.  Sedangkan   ibu  diberi  minuman tuak  dicampur air jahe dengan  tujuan  untuk  membuat tubuh  hangat,  segar, dan melancarkan air susu. Padahal, menurut panduan gizi selama kehamilan  dan laktasi ibu nifas sebaiknya tidak mengkonsumsi alkohol.16
lancar yang berakibat pembengkakan pada kaki, dan ter- jadi tromboplebitis.6
1.
WHO.a  Maternal  Mortality  in 2000:  Estimates  Developed  by WHO,

UNICEF and UNFPA Geneva: WHO,  2004
2.
BPS dan  ORC.  Macro  Survei  Demograpi dan  Kesehatan  Indonesia
Hubungan suami  istri  pada  saat  nifas  boleh  di-
lakukan,  tergantung pada keinginan  suami istri. Praktek

3.
2002-2003, Claverton, Maryland,  USA: ORC Macro, 2003
Adji  Triana  R  Konsep  Kebersihan dalam  Proses  Kelahiran  dan
tersebut dapat  menyebabkan infeksi  pada  masa  nifas

Perawatan Bayi di Desa Kemantan Kebalai,  Kerinci.  Jakarta:  Fakultas
karena  organ  reproduksi wanita  belum  kembali  normal

Ilmu  Sosial  dan  Ilmu  Politik  Universitas  Indonesia,  1986  (skripsi


Sarjana  Tak Diterbitkan)

 
Pantangan makan dan anjuran  pada masa nifas dapat menurunkan asupan gizi ibu yang akan berpengaruh ter- hadap kesehatan ibu dan produksi  air susu. Hal tersebut tidak sesuai dengan  panduan yang menganjurkan untuk mengkonsumsi makanan  yang mengandung karbohidrat, sayuran yang banyak mengandung vitamin A, buah, dan daging setiap hari serta banyak minum.  Pada masa nifas ibu juga dianjurkan untuk  nyandar  yaitu duduk  dengan badan  tegak  bersandar kedinding  dan  kaki  lurus,  ini bertujuan mencega  darah  putih  naik  ke kepala  yang dapat menyebabkan ibu gila dan buta. Ini sejalan dengan penelitian  di Kabupaten Serang  dan  Pandeglang  yang menemukan hal yang sama. Posisi tersebut akan menye- babkan  ibu merasa  tidak  nyaman  sehingga  istirahat  ibu menjadi  terganggu,  selain itu aliran darah  menjadi  tidak
sehingga gampang mengalami luka pada saat melakukan hubungan suami  istri. Pada saat kehamilan  anjuran  un- tuk tidak  minum  obat  sembarangan dan anjuran  untuk periksa  kebidan  sangat  mendukung kesehatan ibu  dan janin. Suami wajib mendampingi istri akan membuat istri tenang,  dan  segera  dapat  memberikan bantuan untuk mencari  pertolongan jika terjadi.  Pelayanan  bidan  kam- pung yang komprehensip akan memberikan kemudahan dan kenyamanan ibu.

Kesimpulan
Sebagian  besar  informan   mengetahui hal  yang berhubungan dengan  kehamilan, persalinan dan  nifas seperti:  tanda-tanda kehamilan, tanda-tanda persalinan, pemeriksaan kehamilan, dan obat-obatan yang berhubungan dengan ibu hamil, namun ada sebagian ke- cil informan  yang tidak memahami pentingnya  memerik- sakan  kehamilan, menurut mereka  memeriksakan ke- hamilan  hanya kalau ada kelainan  saja. Tetapi semua in- forman  tidak  mengetahui konsep  nifas.  Akibat  ketidak tersediaan tenaga  menyebabkan masyarakat memerik- sakan  kehamilannya ke bidan  kampung. Semua  infor- man  juga  berpendapat bahwa  penolong  persalinan adalah bidan kampung.
Semua  informan  mengetahui pantangan dan anjuran selama kehamilan, persalinan, dan nifas. Pantangan sela- ma  kehamilan, persalinan, dan  nifas  ada  yang dapat membahayakan kesehatan ibu,  seperti  pantang  makan, minum ramuan air jahe dicampur tuak setelah melahirkan, anjuran  jangan banyak tidur pada ibu hamil, anjuran  makan nasi dengan garam dan daun bungkal dan anjuran  nyandar pada ibu nifas. Namun banyak juga pan- tangan  dan  anjuran  yang bersifat  netral  seperti  tidak boleh duduk di depan pintu, duduk di tangga, merendam pakaian  dan  lain-lain.  Tidak  ditemukannya pantangan dan anjuran  yang mendukung kesehatan ibu.
Sebagian  besar  informan  berpandangan bahwa  per- salinan  itu  berbahaya  sedangkan  kehamilan  dan  nifas tidak berbahaya. Bahaya persalinan menurut mereka per- darahan dan  partus  macet.  Sebagian  besar  persepsi masyarakat tentang penyebab kematian  ibu adalah faktor medis  seperti  perdarahan dan  penyakit  lain namun  ada satu  orang  informan  yang menyatakan penyebab  diluar medis yaitu hantu  dan satu  orang  informan  tidak  tahu. Sedangkan kejadian  kematian  sebagian  besar  berpan- dangan  dari sudut  agama, seperti  sudah takdirnya.