Praktik Budaya dalam Kehamilan,
Persalinan dan Nifas pada Suku Dayak
Sanggau
“Edy prabowo”
abstrak
Menurut WHO, kematian ibu masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
utama di berbagai negara di dunia dengan angka
kematian rata-rata
400 per
100.000 kelahiran hidup.
Angka kematian ibu di Kalimantan Barat adalah 442 / 100. 000 kelahiran hidup berada di atas angka
rata-rata dunia tersebut
Tujuan umum penelitian ini
untuk mengidentifikasi dan menganalisa praktek budaya masyarakat Suku Dayak
Sanggau yang berpengaruh terhadap kehamilan, kelahiran, dan nifas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, pengambilan data dilakukan dengan
metoda wawancara mendalam, diskusi kelompok ter-
arah, dan observasi. Analisis yang digunakan adalah analisi tema. Penelitian diadakan
di wilayah kerja Puskesmas Sanggau
pada bulan Mei 2006. dengan informan ibu hamil, ibu nifas, bidan
kampung dan ketua adat, dan ibu usia subur.
Penelitian menemukan adanya bentuk praktek budaya yang memba- hayakan dan mendukung terhadap
kehamilan, persalinan, dan nifas pada masyarakat Suku Dayak Sanggau. Praktek
budaya yang membahayakan pada kehamilan : anjuran
bekerja keras, mengurangi tidur, mengangkat peranakan. Pada persalinan : pemeriksaan dalam, tempat persalinan di dapur, nyurung,
mencari badi melalui balian, pemotongan dan perawatan tali pusat, mengeluarkan
tembuni dengan tangan, memandikan bayi dengan air sungai, memberi minum air
jahe ditambah tuak. Pada masa nifas: pantang makan, nyandar, dan hubungan seksual pada masa nifas.
Praktek yang mendukung adalah pen-
dampingan suami saat istri melahirkan, pelayanan bidan kampung yang komperhensif.
Kata kunci : Praktek tradisional kehamilan,
persalinan , delivery, nifas
Kematian ibu masih
merupakan masalah besar
yang dihadapi berbagai
negara di dunia
terutama negara berkembang. Menurut
Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian ibu
di seluruh dunia diperkirakan 400 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan wilayah,
di negara
berkembang 440/100.000 kelahiran hidup,
di Afrika 830/100.000 kelahiran hidup, di Asia,
330/100.000 kelahiran hidup
dan Asia Tenggara
210 orang per 100.000 kelahiran hidup. Indonesia
termasuk dalam 13 negara penyumbang angka kematian ibu terbe- sar di dunia.1 Berdasarkan hasil SDKI tahun 2002-2003 angka kematian ibu di Indonesia
adalah 307/100.000 ke- lahiran
hidup.
Jika dibandingkan dengan
target yang ingin dicapai oleh
pemerintah pada tahun 2010 sebesar
125/100.000
kelahiran hidup angka tersebut masih ter- golong tinggi. Di Kalimantan Barat, angka kematian ibu adalah
442/100.000 kelahiran hidup.2 Pada profil kese- hatan Kabupaten Sanggau tahun 2004, jumlah
kematian ibu pada sarana
kesehatan tercatat 20
orang, sedangkan kematian di luar sarana kesehatan tidak diketahui.
Dari medical Record
Rumah Sakit Umum Daerah Sanggau ke- matian ibu bersalin
tahun
2004
sebanyak
5 orang dan 4 orang diantaranya dari suku dayak.
Masyarakat Indonesia
terdiri
dari berbagai suku
de- ngan latar belakang budaya berbeda yang sangat
mem- pengaruhi tingkah laku kehidupan masyarakat termasuk perilaku
kesehatan. Banyak praktek-praktek budaya yang berpengaruh secara negatif
terhadap perilaku kesehatan masyarakat, sehingga
berisiko lebih besar
untuk me- ngalami infeksi.3 Pada beberapa budaya, pantang makan
pada ibu hamil dapat berpengaruh terhadap asupan gizi.4
Tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah
sangat mempengaruhi kesehatan
ibu. Di Nigeria,
masyarakat yang berpengetahuan
rendah akan
pasrah pada
sayatan gishiri yang merupakan tindakan pembedahan pada vagi- na yang dilakukan oleh dukun beranak pada kasus per- salinan
macet.5 Persepsi
masyarakat terhadap kematian ibu sebagian
besar diwarnai oleh penyebab non medis seperti:
agama, kepercayaan dan
faktor supranatural.6
Persepsi tersebut menyebabkan perhatian terhadap kese- hatan ibu menjadi lebih rendah. Masyarakat akan bersikap pasrah
jika dihadapkan pada ibu yang mengala- mi gawat pada saat hamil,
melahirkan dan nifas.
Penduduk di Kabupaten Sanggau terdiri dari berbagai suku dengan suku mayoritas adalah
suku Dayak, Melayu dan
Tionghoa. Masyarakat Suku
Dayak Sanggau seba- gian besar
tinggal di daerah
pedalaman yang sulit di- jangkau dengan alat transportasi baik darat maupun su- ngai. Mata
pencaharian suku ini sebagian
besar
adalah petani dan buruh perkebunan, sedangkan tingkat pen- didikan
mereka masih
sangat rendah, sebagian
besar tidak tamat SD.7 Masyarakat Suku Dayak
Sanggau masih menjunjung tinggi adat istiadat yang terlihat pada ter- peliharanya
hukum
dan lembaga
peradilan adat.
Melalui
lembaga peradilan
ini berbagai masalah sengketa internal dan eksternal yang timbul di masyarakat dapat
disele- saikan.7 Uraian
di atas mengindikasikan bahwa
ada pratek budaya di dalam masyarakat yang dapat memba- hayakan kehamilan, persalinan dan nifas.
Metode
Penelitian ini adalah
penelitian kualitatif dengan metode
pengumpulan data
meliputi wawancara men- dalam, diskusi kelompok terarah (DKT)
dan observasi langsung. Wawancara mendalam dilakukan terhadap:
ke- tua adat, dukun beranak,
ibu hamil
dan ibu nifas
serta DKT pada ibu usia
subur. Data kualitatif yang dikumpulkan meliputi pengetahuan, kepercayaan,
prak- tek bidan kampung pada
persalinan, kehamilan, dan ni- fas. Observasi
dilakukan terhadap
praktek budaya masyarakat Suku Dayak Sanggau
dalam
proses
persali- nan dan gambaran keadaan
wilayah secara
umum.
Pengolahan data dimulai dengan
melakukan pe- meriksaan terhadap kelengkapan hasil
DKT maupun wawancara mendalam. Selanjutnya, dilakukan pembua- tan transkrip data dari rekaman
ke tulisan segera setelah
pelaksanaan wawancara
dan DKT. Setelah
itu, data dikelompokan sesuai
dengan
sub topik atau tema yang ditentukan, yang dilanjutkan dengan
pengkodingan, peringkasan informasi dan pembuatan matriks data. Kemudian dilakukan penafsiran guna memberi makna
pada berbagai kategori
tersebut dan menemukan pola, hubungan dan membuat temuan-temuan umum. Untuk validasi data digunakan triangulasi sumber, triangulasi
metoda dan
analisa data yang
dilakukan adalah analisa
tematik. Tema yang akan ditampilkan dalam
pemba- hasan
ini antara lain meliputi:
(1) Istilah-istilah yang berhubungan dengan proses kehamilan, persalinan, nifas dan kematian
ibu pada masyarakat Suku Dayak Sanggau. (2) Pengetahuan, kepercayaan dan
persepsi pada masyarakat Suku dayak Sanggau tentang
kehamilan, per-
salinan dan nifas.
(3) Praktek-praktek budaya yang mem- bahayakan terhadap kehamilan,
persalinan dan nifas pa- da masyarakat Suku Dayak Sanggau. (4) Praktek-praktek budaya yang mendukung terhadap kehamilan, persalinan
dan nifas pada masyarakat Suku Dayak Sanggau.
Hasil
Istilah Setempat
Beberapa istilah lokal yang berhubungan dengan ke- hamilan,
persalinan, dan nifas pada
masyarakat Suku Dayak Sanggau antara lain adalah: Ngidam (ngeraah),kaki bengkak selama
hamil
(bosu,muntut),
serotinus (kandung babi), keguguran (mulus, kelabuh), presentasi bokong
(lipat kajang) presentasi kaki (turun tangga) (Lihat tabel 1) Praktek
budaya pada kehamilan, persalinan, dan nifas masyarakat Suku Dayak Sanggau pada dasarnya
adalah tindakan atau
kegiatan yang di-
lakukan oleh masyarakat sebagai suatu upaya kesehatan
diluar ilmu kedokteran. Pada penelitian ini
praktek bu- daya dilihat dari variabel pengetahuan, kepercayaan dan persepsi masyarakat Suku
Dayak
Sanggau termasuk praktek tradisional yang dilakukan oleh dukun bayi
yang lebih dikenal
dengan bidan kampung.
Pengetahuan tentang Kehamilan
Pengetahuan tentang kehamilan mencakup tanda-tan- da kehamilan, pemeriksaan kehamilan, makanan, dan obat-obat yang berpengaruh terhadap kehamilan. Pengetahuan masyarakat Suku Dayak
Sanggau tentang
tanda-tanda kehamilan bervariasi, umumnya
mereka menyebutkan “pembesaran
perut” karena dalamnya ada bayi yang disertai “ngeraah” (ngidam). Beberapa menye- butkan “tidak datang bulan” , “lemah badan”, “ pusing- pusing” (sakit kepala) dan tidak ada nafsu makan,
seper- ti yang diungkapkan informan DKT ibu usia subur:
“....tandanya perut besar ada anak kecil di dalam pe- rut.....”
“....ngeraah, pusing-pusing...”
“.... badan lemah nda ada nafsu makan..”
“...nda dapat
min lagi..”
Pengetahuan masyarakat Suku Dayak Sanggau ten- tang
pemeriksaan kehamilan
yang bervariasi dapat dikelompokan menjadi: ketersediaan tenaga, segi man- faat dan sesuai kebutuhan (situasional). Dari segi keterse- diaan
tenaga masyarakat sebenarnya tahu
dan mau memeriksakan kehamilan ke bidan.
Pada umumnya mereka
menyatakan selama hamil paling
tidak harus memeriksakan kehamilan sebanyak 3-4 kali. Pemeriksaan kehamilan ke bidan kampung biasanya dilakukan untuk meluruskan letak bayi melalui
teknik
mengangkat kan- dungan
seperti
hasil wawancara mendalam dengan in- forman
ibu hamil sebagai berikut:
“... kame’ mau
bah periksa
ke bu
bidan, tapi
bu bidan bah
jarang ada di sini jadi
terpaksa kame nda periksa......biasa 3
sampai 4 kali bah kame’
periksa se-
lama hamil”
Beberapa informan juga
yang menyatakan memerik- sakan kehamilan mereka tidak secara rutin.
“...hamilkan sudah biasa
jadi kalau nda sakit kame’
nda periksa...”
Dari segi manfaat,
masyarakat Suku Dayak Sanggau menganggap bahwa
pemeriksaan kehamilan
dapat
menyehatkan
bayi dan ibunya, memperlancar proses per- salinan,
diungkapkan oleh
informan
ibu hamil sebagai
berikut:
“.. ya.. biar sehat bayinya
dan juga ibunya
lah ...”
Pengetahuan
masyarakat Suku Dayak
Sanggau ten- tang makanan yang sehat
selama masa kehamilan dapat dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu
aspek jenis
dan aspek jumlah
makanan. Dari segi jenisnya,
makanan yang dianggap sehat
untuk ibu
hamil adalah sayuran hi- jau, ikan
dan daging,
sebagaimana yang diungkapkan oleh informan ibu hami sebagai berikut:
“...
yang bagus tu.. sayur yang hijau-hijau
macam daun ubi..”
“... ikan kalau ada
juga bagus”
Dari segi
banyaknya makanan yang dimakan masyarakat Suku Dayak Sanggau sebagian
besar berang- gapan bahwa ibu hamil harus banyak makan, alasan masyarakat karena makanan tersebut untuk
dua orang yaitu ibu dan bayinya,
seperti yang dikatakan informan bidan
kampung sebagai berikut:
“..
ibu hamil tu harus banyak makan biar kuat
kerja karena yang makan berdua ibu dan anaknya bah..”
Sehubungan dengan obat-obat yang diminum
oleh ibu selama hamil, masyarakat Suku Dayak Sanggau tidak mengenal
obat-obat kampung dan selama masa kehami- lan mereka tidak berani
meminum
obat sembarang, de- ngan
alasan takut mengalami
gangguan pada janin mere- ka. Umumnya
para informan
menyatakan bahwa obat yang diminum
harus obat yang berasal dari bidan,
“...nda
beranilah
minum obat sembarangan takut
nanti bayinya nda sehat..”
Pengetahuan tentang Persalinan
Pengetahuan
tentang persalinan meliputi: tanda-tan- da persalinan, penolong persalinan, tempat persalinan,
kelainan selama
persalinan, dan obat-obatan.
Tanda-tanda persalinan yang diketahui
oleh masyarakat Suku Dayak Sanggau meliputi keluar
lendir darah atau calak, perut mulas, sakit pinggang, pecah
air ketuban atau
piying ntutup. Menurut mereka, tanda-tan-
da tersebut akan muncul ketika saat melahirkan sudah ti-
ba, yang biasanya terjadi pada usia kehamilan 9 bulan dan 10 hari atau 40 minggu,
seperti dinyatakan oleh in- forman
DKT ibu usia subur:
“...tandanya keluar calak, perut mulas....biasa umur
9 bulan 10 hari..”
“...sakit pinggang gak, perut mulas trus keluar piying ntutup..”
Hampir semua
informan menyatakan bahwa peno- long
persalinan adalah dukun
bayi yang mereka
sebut (bidan kampung). Setiap persalinan umumnya ditolong oleh tiga orang bidan kampung
dengan tugas yang berbe- da, yang meliputi
pendorong perut
ibu,
pemegang
ibu dan penerima
bayi.
“... kalau kame’ disini dengan bidan kampung.... abis dekat gampang
manggilnya”
“... kalau dengan
bidan kampung semua diurus bayi, ibu dan tembuninya..”
“... biasa bertiga bidan kampungnya.. kan
ada yang megang, ada yang ndorong ada gak
yang
nangkap bayinya..”
Sehubungan dengan tempat persalinan, semua infor- man menyatakan bersalin rumah sendiri ruangan
bersalin yang bervariasi, ada yang menyebutkan di kamar dengan alasan supaya tidak dilihat banyak orang dan agar mudah
membersihkannya. Namun, beberapa informan menya- takan bersalin di dapur,
dengan
alasan mudah member- sihkan
karena air mudah
diperoleh. Mereka membuat lobang pada lantai atau dialasi dengan plastik. Berikut pernyataan informan DKT ibu usia subur:
“... Biasanya kalau
melahirkan di kamar
biar nda malu...biasa dibuat lobang
biar gampang member- sihkannya...”
“...kalau kame di
dapur biar gampang
member- sihkannya
kan banyak air...”
Pengetahuan masyarakat tentang kelainan yang terja- di selama proses
persalinan dapat dilihat dari aspek ke- sehatan
dan kepatuhan. Dari segi kesehatan informan menyatakan kelainan
yang terjadi biasanya perdarahan dan tembuni
yang tinggal dalam rahim.
“...biasanya tembuninya tinggal dalam perut..” “...perdarahan juga sering waktu melahirkan..”
Dari segi kepatuhan, menurut
informan kelainan ter- jadi akibat si ibu atau suaminya
melanggar pantang yang biasa
dipercayai masyarakat setempat.
Seperti yang
di- ungkap informan
DKT ibu usia subur:
“...bisa jak karena ibunya atau
suaminya melanggar pantang..”
Masyarakat tidak pernah mengenal obat-obat yang di- gunakan
selama
pr oses persalinan, seperti yang terungkap dari informan berikut ini.
“... nda ada obat-obatan
yang diberikan,... biasanya kalau tidak
lancar dikasih minum air selusuh”
Pengetahuan tentang
Nifas
Pengetahuan masyarakat tentang masa
nifas meliputi aspek waktu,
mobilisasi, obat-obat, makanan, dan hubungan seksual.
Masyarakat Suku Dayak Sanggau
tidak mengenal isti- lah nifas
karena itu
digunakan istilah masa
setelah melahirkan. Menurut
masyarakat Suku
Dayak Sanggau lamanya masa nifas bervariasi ada yang menyatakan satu minggu, dua minggu dan
satu bulan mereka tidak tahu secara
pasti berapa lamanya masa nifas, seperti diungkap informan DKT ibu usia subur
sebagai berikut:
“... seminggu ..” “.. sebulan
bah..”
“...bisa gak dua minggu..”
Pendapat
masyarakat Suku Dayak
Sanggau tentang
lama waktu setelah
melahirkan ibu boleh beraktivitas ju- ga bervariasi.
Ada yang berpendapat jika sehat ibu dapat langsung bergerak,
ada juga yang berpendapat setelah tiga hari
baru boleh
bergerak, tetapi sebagian
besar menyatakan bahwa setelah melahirkan langsung
dapat melakukan aktifitas seperti
biasanya, seperti yang di- ungkap informan DKT ibu usia subur:
“..tiga hari baru boleh jalan biar kuat”
“..kalau
saya langsung
jak jalan yang penting kuat”
Pendapat mereka tentang obat-obatan cenderung pa- da ramuan
tradisional yang diberikan oleh bidan kam- pung seperti minuman yang terbuat dari campuran tuak, liak
(jahe)
dan
gula. Tujuannya
agar
badan
hangat
se- hingga darah
dan darah beku dapat
cepat keluar
dan air susu lancar.
Namun
ada juga yang minum kopi
supaya badan hangat
dan tidak lemah. Selain
minuman, mereka juga memberikan bedak yang terbuat dari kunyit, liak, dan kencur pada perut
ibu dengan tujuan agar kandu- ngan cepat
kembali muda, seperti
yang dikatakan infor- man DKT ibu usia subur:
“..
kalau habis
melahirkan dikasih minum air
liak dicampur tuak...biar badan
panas..darah kotor
cepat keluar”
“...iya biar badan panas dan air susu cepat keluar” “... minum kopi biar badan kuat nda
lemah..” Menurut masyarakat, makanan yang baik untuk
ibu
nifas adalah makan nasi dicampur garam dan sayur daun bungkal,
selain itu dapat
ditambah ikan
asin atau ikan teri.
“....kalau habis melahirkan hanya makan nasi pakai garam dan daun bungkal”
Masyarakat Suku Dayak Sanggau tidak mempunyai konsep hubungan suami istri setelah melahirkan yang je- las. Hubungan suami istri bisa dilakukan, seminggu, dua minggu
atau satu bulan
setelah melahirkan, seperti pernyataan informan DKT ibu usia subur
berikut:
“...biasanya sebulan sesudah
melahirkan..” “...kalau menurut saya dua minggu..”
“...seminggu gak boleh kalau
suaminya mau gi- mana..”
Kepercayaan tentang Kehamilan
Kepercayaan masyarakat Suku Dayak Sanggau pada saat
hamil meliputi pantangan dan anjuran. Pantangan yang dilakukan masyarakat
yang berhubungan dengan ibu hamil meliputi pantang makan dan pantang
perbua- tan. Pantangan makan
pada saat
hamil menur ut masyarakat Suku
Dayak
Sanggau tidak terlalu
banyak mereka hanya
melarang ibu hamil
untuk tidak
makan daging binatang
yang hidup didalam
lobang seperti treng- giling, daging ular dan daging labi-labi (sejenis kura-ku- ra) dengan
alasan takut
kalau melahirkan akan
susah keluar (persalinan macet).
Keyakinan tersebut didapat
secara turun temurun dan
harus ditaati agar tidak terke- na badi (kualat atau dampak melanggar pantang), seper- ti pendapat informan:
“...yang nda
boleh makan daging labi-labi,
ular, tenggiling nanti kena
badinya..anaknya susah lahir”
Pantangan perbuatan
menurut masyarakat meliputi perbuatan yang tidak
boleh dilakukan oleh
suami maupun istri yang sedang
hamil.
Perbuatan yang tidak boleh dilakukan istri seperti
duduk ditengah
lawang (pintu), duduk di tangga, menjahit
bantal, merendam pakaian, dan
duduk diatas
lesung. Pantangan yang tidak boleh dikerjakan suami adalah memasang pukat
(jaring untuk
menangkap ikan), memasang
tajur
(pancing), mengisi peluru, menambal perahu, menangkap binatang
yang hidup dalam lobang
dan membendung parit (anak sungai) dan sawah. Alasan
dilakukan pantangan tersebut agar ibu melahirkan dengan lancar,
seperti
yang disam- paikan informan ibu hamil:
“....banyak pantangnya nda boleh duduk di lawang, duduk dilesung, menjahit bantal.....kalau suami
nda boleh najur, masang
pukat....pokoknya banyak bah”
Anjuran yang harus
dipatuhi
masyarakat Suku Dayak Sanggau adalah ibu hamil harus banyak
bekerja tidak boleh
banyak
tidur
karena
diyakini kalau banyak
tidur bayinya akan lengket pada tulang belakang ibu se- hingga akan susah waktu melahirkan.
“...kalau ibu hamil
jangan banyak tidur harus banyak kerja, nanti bayinya lengket ke tulang belakang
susah lahirnya”
Kepercayaan tentang Persalinan
Kepercayaaan
masyarakat tentang pantang dan anju- ran pada saat persalinan tidak sebanyak
seperti pada saat hamil. Pantangan tentang
makanan tidak
ada, sedang pantang perbuatan biasanya
untuk pihak
suami
yaitu sama
dengan pantangan waktu
hamil. Anjuran
yang diyakini harus dilakukan adalah membuka semua yang tersumbat atau tertutup, misalnya membuka tutup tem- payan mengosongkan peluru dalam senapan, membuka
bendungan air sawah. Tujuannya
adalah agar persalinan lancar, seperti yang disampaikan informan
ketua adat:
“...nda ada pantangan lain sama jak waktu hamil..trus waktu mau
melahirkan harus membuka se- mua yang tertutup atau tersumbat macam
tempayan trus peluru dalam senapang juga harus dikeluarkan..”
Kepercayaan tentang nifas
Kepercayaan masyarakat tentang pantangan dan an- juran
pada saat
nifas
ditujukan pada ibu
yang habis melahirkan. Pantangan yang banyak berupa pantangan makan. Ibu yang baru melahirkan dipantang untuk tidak makan daging, telur,
ikan,
sayuran
yang bersifat dingin
seperti labu air, timun, perenggi (waluh), dan
sayuran berbumbu, lamanya pantangan tergantung dari
jenis
makanannya
seperti: daging rusa selama tiga bulan, da- ging ayam selama satu bulan, daging babi selama delapan hari, daging sapi satu bulan, telur satu
bulan,
sayuran yang bersifat dingin juga satu bulan dan sayuran berbum- bu satu bulan.
Jika dilanggar maka bayi dan ibu
akan terkena badi, karena ibu yang habis melahirkan badan- nya bersifat
dingin dan jika dimakan maka
akan sakit.
“..pantang untuk
ibu habis melahirkan banyak nda boleh makan daging babi delapan hari, ayam sebulan,
sapi sebulan, ular setahun rusa tiga bulan
pokoknya banyaklah..”
Anjuran yang diyakini baik
untuk
ibu yang habis melahirkan adalah duduk
nyandar (kaki lurus
badan nyandar didinding) selama
satu
bulan
biar darah putih
tidak naik ke kepala,
takut jadi
gila bisa juga buta. Makanan yang
dianjurkan nasi putih dengan garam dan daun
bungkal selama
tiga hari
“..sebaiknya makan nasi dengan garam sayur daun bungkal ...tiga hari biasanya..”
Persepsi tentang
Kehamilan, Persalinan, dan Nifas
Persepsi masyarakat
terhadap kehamilan, persalinan dan nifas adalah pandangan
masyarakat terhadap bahaya kehamilan, bersalin dan nifas juga pandangan terhadap kejadian kematian ibu. Masyarakat
Suku Dayak Sanggau mempunyai pandangan tersendiri terhadap bahaya
ke- hamilan,
persalinan dan
nifas. Menurut sebagian besar informan saat
yang berbahaya adalah saat melahirkan karena pada saat itu ibu bisa mengalami perdarahan, per- salinan macet, sedangkan
pada saat hamil dan nifas tidak berbahaya karena hamil dan nifas bersifat alami. Tetapi ada
sebagian kecil informan
yang mengatakan bahwa hamil, bersalin
dan nifas berbahaya. Menurut mereka pa-
da saat hamil jika
ibu
tidak sehat nantinya susah melahirkan, sedangkan pada saat melahirkan bahaya jika terjadi perdarahan, partus macet. Pada masa nifas berba- haya karena badan lemah,
demam.
“..yang bahaya tu waktu melahirkan bisa mati, tapi kalu hamil sih
nda..kan udah biasa perempuan hamil”
Sedang persepsi
masyarakat terhadap kejadian kema- tian ibu mereka berpandangan bahwa kalau ibu mati itu sudah
ajalnya, sudah
waktunya, mereka memandang
Darisudut agama.
“..itulah kalau mati
sudah panggilan tuhan” “..sudah sampai
janjinya
bah..”
Sedangkan
persepsi mereka tentang
penyebab kema- tian
ibu bervariasi dari segi medis
dan dari
segi non medis. Dari
segi medis
mereka beranggapan kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, sakit, sedangkan dari segi non medis mereka menganggap penyebabnya kare- na hantu.
“..biasanya
akibat penyakit..” “..karena darah banyak keluar..” “..karena hantu..”
Praktek Bidan Kampung
Praktek yang dilakukan oleh bidan kampung selama kehamilan adalah melakukan pengangkatan
peranakan (kandungan) untuk membetulkan letak janin dan pengu- rutan untuk membuat tubuh ibu merasa enak. Hal terse- but biasanya
dilakukan tiga kali selama
masa kehamilan. Seperti yang dikatakan informan berikut:
“...iya biasa
kalau mereka periksa
ke emak minta di- urut juga emak angkat
peranakannya biar letak bayinya
benar....biasa tiga kali selama kehamilan”
Praktek yang dilakukan oleh bidan kampung selama proses persalinan meliputi;
pemeriksaan presentasi (letak) janin dengan
memasukan tangan ke dalam vagi-
na; pertolongan mengeluarkan
janin dengan mendorong perut
ibu atau nyurung, pemotongan dan perawatan tali pusat, membantu mengeluarkan tembuni dengan tangan (manual placenta). Bidan
kampung memastikan letak terendah janin
dengan pemeriksaan dalam
(vaginal touche). Pada
saat pemeriksaan dalam, tangan
dukun tidak menggunakan sarung
tangan
kare dan suci
hama (strerilisasi). Tangan hanya dicuci dengan air
yang dicampur daun sirsak,
seperti dinyatakan oleh informan bidan
kampung sebagai berikut:
“....biasanya emak kalau ingin tahu kepala
atau pan- tat yang dibawah, caranya emak memasukkan tangan emak kedalam barang perempuan (vagina) tu...untuk mencuci tangan emak
memakai air ditambah dengan daun sirsak”
Praktek pertolongan persalinan tersebut dikonfir- masikan melalui observasi peneliti pada observasi
prak- tik pertolongan persalinan oleh
bidan kampung. Dari hasil
observasi, pertolongan persalinan dilakukan oleh tiga orang bidan
kampung. Bidan kampung
pertama bertugas sebagai bidan
utama yang mendorong bayi, memotong
dan merawat tali
pusat;
bidan kampung kedua
bertugas menerima bayi; bidan kampung ketiga bertugas menenangkan dan memegang ibu. Bidan kam- pung utama
mendorong perut ibu (nyurung) tanpa meli- hat kelengkapan pembukaan
kandungan. Tali pusat dipo- tong dengan menggunakan
sembil (bambu) diatas balok kayu setelah
tembuni lahir. Pemotongan harus dilakukan di atas
mata tali pusat
agar tidak
terjadi perdarahan. Setelah pemotongan, tidak dilakukan pengikatan. Ujung tali pusat dibubuhi kopi dan dimanterai oleh bidan kam- pung utama. Pada
pangkal tali pusat juga diberi
ramuan yang terdiri dari jelaga, daun nangka kering
dan air ludah bidan
kampung
yang makan sirih, dengan tujuan
agar tali
pusat cepat lepas.
Hasil wawancara mendalam dengan bidan kampung diketahui
bahwa jika setelah
15 menit placenta
tidak lahir, bidan kampung akan mengeluarkan placenta de- ngan tangan
yang tidak menggunakan sarung
tangan. Tembuni yang
sudah keluar dibersihkan, diberi garam dan disimpan
dalam keranjang bambu,
kemudian
ditenggelamkan di sungai atau digantung
di pohon kayu yang tinggi, seperti pernyataan berikut:
“...
kalau emak tunggu 15 menit nda
keluar, emak masukkan tangan
kedalam barang
perempuan tu de- ngan mengikuti tali pusat,
dah itu
baru tembuninya emak
tarik....tembuninya dikerjakan
dikasih garam terus digantung dipohon tinggi atau di tenggelamkan
di sungai..”
Dari observasi diketahui
bahwa
bayi yang baru lahir segera dimandikan dengan air di dalam ember. Setelah
itu, bayi dibungkus dengan kain dan diserahkan kepada ibunya. Perut ibu
diberi bedak yang
terbuat dari kunyit dan
liak yang ditumbuk agar ibu merasa hangat. Kemudian perut ibu dililit dengan kain setagen agar pera- nakan ibu
cepat kembali normal.
Setelah
itu ibu diberi minum tuak dicampur air rebusan jahe,
agar darah kotor cepat
keluar
dan merangsang keluarnya ASI (Air Susu Ibu).
Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan infor- man DKT ibu usia subur.
“..
kalau habis
melahirkan dikasih minum air
liak dicampur tuak...biar badan
panas..darah kotor
cepat keluar”
“...iya biar badan panas dan air susu cepat keluar”
Pada saat nifas praktek budaya yang dilakukan
hanya melakukan pengurutan pada ibu.
Pembahasan
Istilah atau bahasa
daerah
setempat
yang berhubu- ngan dengan
kehamilan, persalinan, dan nifas
penting untuk
diketahui
dan diidentifikasi. Dengan memahami istilah setempat secara benar akan mempermudah melakukan pendekatan dan intervensi. Memahami
istilah setempat
juga akan mengurangi hambatan dalam berko- munikasi dengan masyarakat, sehingga hal-hal penting yang akan disampaikan dapat
diterima
secara utuh
Pengetahuan
Sebagian besar
masyarakat Suku Dayak Sanggau mempunyai pengetahuan
tentang kehamilan yang tergo- long
baik yang mendukung kesehatan ibu
hamil. Pengetahuan tentang
tanda-tanda kehamilan kemungki- nan di dapat
dari inner
proses yang merupakan akumu- lasi pengalaman yang didapat sebelumnya. Pengetahuan tentang pemeriksaan kehamilan
sudah
tergolong baik, perilaku memeriksakan kehamilan pada bidan
kampung terjadi akibat tenaga kesehatan yang tidak tersedia. Dalam perilaku, ketersediaan tenaga merupakan faktor enabling.8
Namun, sebagian kecil
masyarakat Suku Dayak
Sanggau berpengetahuan yang membahayakan kehamilan, yaitu menganggap tidak perlu memeriksakan kehamilan jika tidak ada
gangguan. Pengetahuan
yang
rendah tentang pemeriksaan kehamilan
pada
sebagian kecil informan disebabkan oleh kurang
informasi dari petugas kesehatan ataupun media lainnya. Hal ini dise-
babkan oleh
petugas yang
jarang di tempat serta
sarana informasi dan transportasi yang kurang. Pengetahuan se- bagian
besar
masyarakat Suku
Dayak Sanggau tentang
nutrisi untuk ibu hamil ternyata
sudah tergolong cukup. Pengetahuan tersebut
kemungkinan didapat secara turun
temurun, dan pengalaman sebelumnya yang didukung oleh ketersediaan sumber makanan. Pengetahuan masyarakat tentang
penggunaan obat-obatan selama masa kehamilan
sudah tergolong baik
yang mungkin di- dapat dari
pengalaman sebelumnya.
Pengetahuan masyarakat
tentang tanda-tanda persali- nan meliputi
keluarnya lendir
bercampur darah atau calak, perut mulas, sakit pinggang,
pecahnya air ketuban atau
piying ntutup. Tanda-tanda tersebut
akan muncul jika
saat melahirkan tiba, biasanya
pada umur kehamilan
9 bulan dan
10 hari atau
40 minggu. Fenomena
yang mendahului permulaan
persalinan adalah sekresi vagina bertambah banyak, ada lendir darah (bloody show), nye- ri pinggang
terus menerus, terjadi his (kontraksi uterus yang menyebabkan rasa
mulas).9 Itu
berarti bahwa pengetahuan masyarakat Suku Dayak
Sanggau tentang
tanda-tanda persalinan
tergolong baik.
Pengetahuan tersebut kemungkinan di
dapat dari
inner proses yang merupakan akumulasi dari pengalaman yang didapat se- belumnya.
Pengetahuan tentang pilihan tenaga penolong persalinan pada
bidan
kampung sesuai dengan
hasil penelitian
di Kabupaten Jayapura dan Puncak
Jaya. Sebagian besar ibu meminta
pertolongan persalinan pa- da dukun
beranak
dan
teman
sebaya.10 Di
Kabupaten Sintang Kalimantan Barat sebagian
besar masyarakat memilih
persalinan pada dukun beranak. Pilihan pada tenaga bidan kampung
tersebut disebabkan
oleh keter- batasan tenaga tenaga
bidan yang belum mencakup selu- ruh desa.11
Pemilihan tempat persalinan di rumah tempat tinggal di
kamar tidur atau dapur
karena pertimbangan
merasa
lebih familiar dan tidak perlu susah-susah membawa
ibu keluar
dari rumah. Masyarakat
di
Jayapura dan Puncak jaya
melaksanakan persalinan di
rumah agar
tidak susah membawa keluar
rumah dan lebih banyak keluarga
yang bisa membantu.10 Masyarakat juga memilih
dapur seba- gai tempat melahirkan dengan alasan lebih mudah untuk membersihkannya. Hal ini juga sejalan
dengan penelitian tentang konsep tata ruang bersih dan kotor
pada suku kerinci. Kelahiran dianggap sebagi proses yang kotor ma- ka proses
tersebut harus dilakukan di
ruang kotor yaitu dapur.3 Bagaimanapun, pemilihan dapur sebagai tempat persalinan akan meningkatkan resiko infeksi nifas dan in- feksi pada bayi.
Menurut masyarakat, kelainan yang sering terjadi
pa- da saat melahirkan meliputi kelainan yang bersifat
medis yaitu perdarahan dan retensio
placenta (ari-ari
yang tertinggal dalam rahim), serta kelainan akibat melanggar pantang. Pengetahuan masyarakat tentang
perdarahan
sudah tergolong
baik, karena mereka
beranggapan darah keluar yang melebihi biasanya
dapat membahayakan
ke- selamatan ibu. Menurut mereka
jika perdarahan terjadi maka mereka
harus segera merujuk
ke fasilitas kese- hatan. Pengetahuan tersebut
mungkin didapat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Selain itu, masyarakat Suku Dayak Sanggau tidak mengenal peng- gunaan obat-obatan selama proses
persalinan, mereka hanya mengenal air selusuh (air yang sudah dimantrai) untuk memperlancar proses persalinan. Penggunaan obat-obatan selama
proses persalinan hanya boleh
di- lakukan oleh
tenaga kesehatan. Pada proses persalinan
pemberian obat dilakukan jika ada kelainan selama pro- ses persalinan seperti
pemberian oksitoksin
pada induk- si persalinan.9
Masyarakat Suku Dayak Sanggau tidak mengenal konsep masa nifas,
mereka tidak tahu berapa lamanya masa nifas. Menurut meraka lamanya masa nifas tergan- tung masing-masing kondisi ibu. Masa nifas dimulai sete- lah kelahiran placenta dan berakhir ketika
alat-alat kan- dungan kembali
seperti
keadaan
sebelum
hamil. Masa nifas berlangsung kurang lebih enam minggu.12 Aktifitas ibu nifas biasanya tergantung dari kondisi kesehatan ibu,
ada yang beranggapan setelah tiga hari baru boleh ber- aktifitas. Semakin cepat mobilisasi ibu semakin mengu- rangi
resiko terjadinya trombopleblitis. Ramuan tradi- sional yang diberikan pada masa nifas yang mengandung alkohol
tidak baik
bagi
kesehatan ibu dan
produksi ASInya. Selain itu, pantang makan selama masa nifas menyebabkan asupan gizi ibu menjadi
berkurang dengan segala resikonya.
Hubungan suami istri yang dilakukan
pada masa nifas dapat meningkatkan resko demam nifas, hal
tersebut disebabkan proses persalinan belum sembuh sempurna.
kepercayaan
Kepercayaan
pada masa kehamilan
yang berlaku pa- da masyarakat Suku
Dayak Sanggau
dapat dibedakan atas pantangan dan anjuran. Pantangan
pada ibu hamil meliputi pantang makan dan pantang perbuatan. Pantangan makan ternyata tidak
terlalu banyak, mereka hanya melarang ibu hamil untuk tidak makan daging
bi- natang yang hidup didalam
lobang
seperti trenggiling, daging ular dan daging
labi-labi (sejenis kura-kura). Tujuan
pantang
tersebut selain takut akan
terjadi ham- batan
pada persalinan juga takut
kalau anak
yang di- lahirkan akan memiliki sifat seperti hewan tersebut. Pantang tersebut secara langsung tidak berdampak pada kesehatan ibu. Pantangan yang ditujukan pada ibu dan suami bertujuan untuk memperlancar proses kehamilan. Pantangan tersebut bersifat netral karena
tidak berpe- ngaruh langsung terhadap kesehatan ibu. Anjuran pada ibu hamil
meliputi pengurangan waktu
dan
banyak melakukan pekerjaan sehari-hari yang seperti ke sawah,
mencari kayu, menyadap karet. Hal tersebut bertujuan agar bayi dalam kandungan tidak lengket pada tulang be- lakang ibu
sehingga mengalami kesulitan pada saat melahirkan, dapat
membahayakan kandungan dan kese- hatan
ibu.
Pada masa persalinan berlaku hanya anjuran perbua- tan pada suami.
Anjuran tersebut bertujuan untuk mem- perlancar proses persalinan. Pantangan pada masa per- salinan secara tidak berdampak langsung pada kesehatan ibu. Bidan kampung akan berupaya mengetahui
pelang- garan pantang yang dilakukan oleh suami apakah selama kehamilan. Jika hal tersebut terjadi,
maka suami wajib
menghilangkannya, misalnya membongkar kembali tam- balan pada perahu. Kewajiban suami mendampingi istri saat melahirkan akan meringankan beban psikis istri se- hingga merasa lebih tenang.
Tujuan pantangan pada masa nifas untuk
menjaga kesehatan ibu dan anak. Jika ibu melanggar
pantang makan daging dan telur sebelum waktunya, maka anaknya akan menderita penyakit gatal-gatal dan hernia.
Makanan yang dimakan ibu akan
diteruskan ke anak melalui air susu. Sedangkan jika pantang makan
sayuran yang berjenis dingin akan menyebabkan ibu sakit
yang sesuai dengan
konsep “panas dingin”. Makanan yang di- pantang pada dasarnya
bernilai
gizi tinggi
yang sangat diperlukan oleh ibu. Pada saat nifas ibu dianjurkan untuk makan
nasi dengan garam,
sayur daun
singkong, dan daun bungkal.
Makanan
yang dianjurkan
pada ibu nifas tersebut tampaknya
bernilai gizi yang rendah. Dengan
demikian, pelaksanaan
pantangan dan anjuran
tersebut
maka akan berakibat pada penurunan asupan gizi ibu berkurang,
yang berpengaruh terhadap kualitas
dan kuantitas air susu ibu. Hal tersebut akan mempengaruhi asupan
gizi pada bayi dengan
segala
resikonya. Selain itu, ibu nifas dianjurkan
untuk nyandar yaitu dalam po- sisi punggung
tegak dan
kaki lurus. Hal tersebut di-
lakukan selama sekitar satu bulan,
tetapi
ada yang ku- rang
dari
itu.
Hal tersebut bertujuan agar darah putih
tidak naik ke kepala yang dapat
menyebabkan ibu men- jadi gila dan buta.
Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian pada masyarakat Sunda
di Kabupaten Sukabumi14 dan di Kabupaten Serang dan Pandeglang.6
Anjuran tersebut membuat ibu tidak beristirahat dengan
nyaman sehingga dapat mengganggu kesehatan ibu dan meningkatkan resiko tromboplebitis.
Sebagian besar
informan beranggapan saat yang berbahaya adalah pada waktu
ibu bersalin, sedangkan
pada saat hamil dan nifas dianggap tidak berbahaya. Hal
tersebut sangat membahayakan kesehatan ibu
hamil dan ibu nifas karena mereka menganggap keadaan tersebut normal, sehingga tidak
ada upaya pencegahan. Persepsi kematian sebagian
besar
informan
lebih banyak dipan- dang
dari aspek agama yang
merupakan takdir. Hal ini sejalan dengan penelitian pada masyarakat Suku Sunda
di Kabupaten Pandeglang
dan Kabupaten Serang yang menemukan bahwa kejadian
kematian
merupakan takdir.6 Cara pandang tersebut
sangat berbahaya karena masyarakat akan bersikap
apatis jika berhadapan dengan ibu yang dalam
keadaan
kritis,
mereka
tidak
berusaha untuk merujuk ke fasilitas
kesehatan.
Praktek Budaya
Pada penelitian ini praktek budaya
terhadap kehami- lan, persalinan, dan nifas dapat di bagi menjadi praktek budaya
yang mendukung dan
membahayakan. Praktek budaya tersebut didapat
dari pengetahuan, kepercayaan, persepsi dan tindakan yang dilakukan oleh bidan kam- pung pada masyarakat Suku Dayak Sanggau. Paktek bu- daya yang membahayakan kehamilan
adalah adanya an- juran selama
hamil ibu harus
tetap beraktifitas rutin. Masyarakat Suku
Dayak Sanggau sebagian besar beker- ja sebagai petani dengan ibu rumah tangga melakukan pekerjaan tersebut
mendampingi suami. Porsi
pekerjaan wanita di ladang
lebih
berat daripada pria.
Pada saat hamil, hal tersebut tetap dilakuakn sehingga memperbe- sar resiko
aborsi pada trimester pertama
dan lahir pre-
matur pada
trimester keempat. Padahal mereka seharus- nya tidak melakukan pekerjaan yang terlalu
berat.13
Teknik mengangkat
peranakan yang dilakukan minimal
tiga kali selama masa kehamilan
olah bidan kampung
da- pat membahayakan bagi keselamatan
ibu dan janinnya. Tindakan
tersebut dapat
menyebabkan robeknya
kan- dungan (ruptur uteri) dan kematian janin.
Pada masa
persalian, banyak praktek
budaya yang membahayakan kesehatan ibu dan
bayinya. Penolong persalian yang dipilih adalah bidan kampung karena
se- lalu
ada jika dibutuhkan. Pertolongan persalinan oleh bidan kampung
tentu akan berisiko kematian ibu tinggi. Meskipun terlatih, pertolongan dukun kampung terbuk- ti
tidak menurunkan tingkat kematian ibu.15 Tindakan mengetahui letak terendah bayi (presentasi) dengan memasukkan tangan kedalam rongga vagina tanpa meng- gunakan
sarung
tangan. Sebelum
melakukan tindakan tersebut bidan kampung
mencuci tangan dengan air yang dicampur daun sirsak.
Tindak tersebut dapat meningkatkan r esiko
infeksi pada
ibu dan
janin. Persalinan
yang dilakukan di dapur tidak memenuhi azas bersih alat, bersih
tempat, ini
akan memperbesar resiko terjadinya
infeksi, terutama infeksi nifas.Untuk memper- mudah proses persalinan bidan
kampung
melakukan dorongan(nyurung) pada perut
ibu (pundus uteri). Tindakan tersebut sangat berbahaya
karena
dapat menye- babkan sobeknya rahim (ruptur
uteri). Tindakan tersebut dilakukan
tanpa mempertimbangkan kelengkapan pem- bukaan kandungan. Tindakan
tersebut dilakukan
beru- lang-ulang sampai bayi lahir.
Bidan kampung tidak segera
merujuk persalinan lama rumah
sakit atau puskesmas. Biasanya
mereka berusaha untuk
mencari
penyebab hambatan tersebut melalui teknik perdukunan (belian). Upaya tersebut dapat memperlambat rujukan sehingga membahayakan keselamatan ibu dan bayi.
Dari hasil observasi pemotongan tali pusat dilakukan setelah
placenta lahir, pemotongan dilakukan dengan menggunakan sembilu hal tersebut sejalan dengan penelitian Hasil penelitian Giay10 alat pemotongan tali pusat pada
masyarakat di Jayapura
dan Puncak
Jaya adalah bambu, silet
bekas, gunting steril,
silet yang dire-
bus dengan kulit gaba-gaba. Pemotongan tali pusat sete- lah placenta lahir
dapat menyebabkan perdarahan pada bayi, sedangkan
pemotongan dengan sembilu
akan meningkatkan resiko infeksi pada bayi. Pemotongan tali pusat dilakukan di atas mata tali pusat, yang
diyakini tidak menyebabkan perdarahan sehingga
tidak diper- lukan
pengikatan. Ujung tali pusat
yang telah
dipotong diberi kopi dan kemudian dilakukan
mantera. Pangkal tali pusat diberi
ramuan jelaga
bercampur daun nangka
kering dan air ludah
orang yang mengunyah
sirih. Praktek tersebut dapat menyebabkan infeksi pada masa neonatus.
Apabila tembuni (plasenta) tidak lahir selama limabelas menit,
dilakukan penarikan
dengan cara memasukkan tangan ke dalam rahim
mengikuti tali pusat. Praktek
tersebut dapat
menyebabkan robeknya rahim dan meningkatkan resiko infeksi pada ibu. Setelah memotong tali pusat, bayi
dimandikan dengan air yang diambil dari
sungai hal ini dapat
menyebabkan bayi mengalami hypotermi (suhu tubuh
dingin)
ini sangat berbahaya bagi
bayi. Sedangkan ibu diberi
minuman tuak dicampur air
jahe dengan tujuan
untuk
membuat tubuh hangat, segar, dan melancarkan
air susu. Padahal,
menurut panduan gizi selama kehamilan
dan laktasi
ibu nifas sebaiknya tidak mengkonsumsi alkohol.16
|
sehingga gampang mengalami
luka pada saat melakukan
hubungan suami istri.
Pada saat kehamilan anjuran un- tuk tidak minum obat
sembarangan dan anjuran untuk periksa kebidan sangat
mendukung kesehatan ibu
dan janin. Suami wajib mendampingi istri akan membuat istri tenang, dan
segera
dapat memberikan bantuan untuk mencari pertolongan jika terjadi. Pelayanan bidan kam- pung yang komprehensip akan memberikan kemudahan dan kenyamanan ibu.
Kesimpulan
Sebagian besar
informan
mengetahui hal yang berhubungan dengan
kehamilan, persalinan
dan nifas seperti: tanda-tanda kehamilan, tanda-tanda persalinan, pemeriksaan kehamilan,
dan obat-obatan yang berhubungan dengan ibu hamil, namun
ada sebagian ke- cil informan
yang tidak memahami pentingnya
memerik- sakan
kehamilan, menurut mereka memeriksakan ke- hamilan hanya kalau ada kelainan
saja. Tetapi semua in- forman tidak mengetahui konsep nifas. Akibat ketidak
tersediaan tenaga
menyebabkan masyarakat
memerik- sakan kehamilannya ke bidan
kampung. Semua
infor- man juga berpendapat bahwa
penolong persalinan adalah
bidan kampung.
Semua informan mengetahui pantangan dan anjuran selama kehamilan, persalinan, dan nifas. Pantangan sela- ma kehamilan, persalinan, dan
nifas ada
yang dapat membahayakan kesehatan ibu, seperti pantang makan, minum ramuan air jahe dicampur tuak setelah melahirkan, anjuran
jangan banyak tidur pada ibu hamil, anjuran
makan nasi dengan garam dan daun bungkal dan anjuran nyandar pada ibu nifas. Namun banyak juga pan- tangan dan anjuran
yang bersifat netral
seperti tidak boleh duduk di depan
pintu, duduk di tangga, merendam pakaian dan
lain-lain. Tidak ditemukannya pantangan dan anjuran
yang mendukung kesehatan
ibu.
Sebagian besar
informan berpandangan bahwa per- salinan itu berbahaya
sedangkan kehamilan
dan nifas tidak berbahaya. Bahaya persalinan menurut mereka per- darahan dan partus macet.
Sebagian besar
persepsi masyarakat tentang
penyebab kematian
ibu adalah faktor medis seperti perdarahan dan
penyakit lain
namun ada satu orang informan yang menyatakan penyebab diluar medis yaitu hantu dan satu orang informan
tidak
tahu. Sedangkan kejadian
kematian sebagian
besar
berpan- dangan dari
sudut agama,
seperti sudah
takdirnya.